Janjiku
August 31, 2006
Maaf,
setelah sekian lama aku baru menulis. kali ini hanya karena kesibukanku-lah yang menghalangiku untuk bercerita danmenunaikan janjiku kemarin…
Aku sudah kembali lagi ke tempat ini, meninggalkan seribu satu kenangan dan harapanku di tempat itu…Ah, lagi-lagi aku tak tau harus memulai dari mana…
"Kedatanganku saat itu bukan tidak mendapat sambutan.si empunya tempat menjemputku di bandara setelah sekian jam menunggu tertundanya pesawatku.debar di jantung serasa ingin meledak saat pesawat mendarat. berkali ku patut diriku didepan cermin toilet, ah apa tanggapan mereka melihatku nanti?
hangat tapi dingin. hanya itu yang kurasakan saat itu.entah mengapa.satu hal yang kutau, aku harus sungguh berjuang disini, feelingku berkata demikian… malam itu aku tidur di tempat sementara dengan mereka.dengan ibu si empunya tempat itu.. aku sungguh bahkan tidak bisa memejamkan mataku barang sekejap.
dua hari terlewat, tiba saatnya aku pergi ke tempat tujuan akhirku pada perjalanan itu.disepanjang perjalanan aku menatap keluar jendela bis."ah, tidak seburuk yang pernah diceritakan salah satu penghuninya yang bersamaku saat dulu. cukup menarik.asia semua hampir sama toh?" sesampainya disana, keganjalan semakin terasa. penghuni yang pergi bersamaku tiba2 menjadi lain. kenapa lain? entah. dia sungguh melepaskanku sendiri untuk berjuang beradaptasi di tempat itu. tempat baru yang asing bagiku. 1001 cara aku buat untuk bisa membuatku familiar dengan tempat itu.penghuni yang lain? tidak ada masalah, mereka sangat baik padaku. tapi si penghuni yang pergi bersamaku ini:what the hell in his mind?
ada kemungkinan dia yang mengerti semua pembicaraan, dia yang paham semua komentar yang terlontar. baik dari keluarga, kerabat, tetangga maupun rekan dan sahabatnya.cuma dia memang yang paham. cuma dia pula yang menangggung..Sebentar, cuma dia yang menanggung? kenapa? salah dia sendiri kan? aku disini untuk diperkenalkan sebagai apa? jelaskan dulu pada penghuni tempat itu. dengan lengkap! jadi aku gak perlu menjawab tetek bengek yang tak perlu! dan jika kamu mendengar sesuatu yang kurang sedap, beritahu aku, ini saatku memperbaiki danmenyesuaikan, bukan waktuku berbuat salah!!
aaah, Tuhan punya rencana lain. disela kunjunganku kesana, paling tidak ada 2 kejadian yang membuatku, entah menjadi disukai atau dibenci? (",). sekumpulan bakteri masuk ke kakiku membuat aku nyaris tak bisa jalan samasekali.sedikitpun aku tidak berguna membantu atau menolong. wah, kandas cita2ku untuk memberi impresi yang baik…jangankan ikut membantu, bergerakpun aku tak diijinkan, hanya seperti putri raja yang seharian teronggok lesu di ranjangnya menunggu pangeran yang tak kunjung datang, ha’ ha’!
masih dibawah penyakitku, aku melakukan suatu kesalahan besar. lalai sekali…paling tidak dengan traumaku tentang masalah ini, biasanya aku tak pernah lalai. tapi entahmengapa malam itu mataku begitu berat menahan kantuk. aku lelah sekali, sementara malam gelap membuatku susah bermobilisasi. kunyalakan sebatang lilin penerang malam itu dan tertidur. sudah kalian duga kan ujung ceritanya? entah berapa saat aku menghirup CO2 dikamar tertutup itu. yang jelas begitu kubangun, hanya nyala api yang terlihat di selurusan mataku. tidak besar memang, tapi cukup lah untuk membuat semua benda disekitarnya menjadi hitam. duh gita. "..ada apa denganmu?" (peter pan, 2005)
Dua kejadian itu membuatku tersadar..mungkin aku banyak salah. tapi Tuhan memang selalu punya rencana yang paling baik untuk umatnya…baik atau buruknya memori yang kutinggalkan, kedinginan yang kurasakan dulu semakin hari semakin mencair. seringnya ada tawa yang menertawai kebodohanku…aku tidak marah, aku memang salah, aku malah lega. percakapan kami-pun mulai meningkat menjadi pembicaraan yang sedikit lebih serius. penghuni yang ebrsamaku itu? dia tetap tak bergeming membiarkanku menjelaskan semuanya sendiri. tak apa, toh dia akan lepas kontrol dan menjadi pemarah yang luar biasa jika kulibatkan dia..ah sifat yang dulu tak terlalu kuketahui..hmm ada baiknya juga kuketahui sekarang, sehingga bisa ku sesuaikan dengan kadar ambang batas sabarku… lagipun aku sudah cukup percaya diri untuk berbicara sendiri, on behalf of us. US!not ME!, ah… tak apa, setiap pembicaraan berlangsung secara menarik dan sedikit menegangkan., kulurskan semua prasangka mereka, kupastikan setiap kekhawatiran mereka.walau ujungnya masih sama, kami tetap tidak menemukan, ah gita, jangan katakan tidak, belum, ya belum lebih tepatnya. belum menemukan jalan kami, mungkin ini yang saat ini memang terbaik dan harus kami jalani.
semakin hari kurasakan kecintaan mereka padaku. aku merasakan mereka mulai melibatkanku dalam beberapa hal. walau komentar tidak sedap dari kerabat jauh yang tidak menemuiku, atau mungkin gagal dan tak sempat aku kunjungi, membuat si penghuni yang bersamaku bertambah berang, tapi aku cukup puas dengan keadaan yang kuhadapi. aku bertemu dengan beberapa diantara mereka dan mereka semua sangat hangat menerimaku.paling tidak mereka memperlakukanku sebagai pemain yang diperhitungkan dalam pertandingan ini. haha kenapa juga aku harus analogikan semua ini dengan pertandingan, ya?
kunikmati minggu terakhirku disana. kami tak pergi ke banyak tempat, tapi kuhabiskan waktu yang berkualitas bersama penghuni yang bersamaku. tetap tidak membicarakan peningkatan statusku, tapi kami hanya menghabisakan waktu bersama yang terlihat semakin sempit. sebelum akhirnya kami harus berpisah tengah malam itu…hatiku sungguh sakit.ini toh rasanya berpisah tanpa kepastian, perpisahan yang pernah aku tangisi, perpisahan yang mama bilang jangan menengok ke belakang, perpisahan yang sudah menghantuiku sejak lama, sejak kami berjumpa…sakit ya!sakit! pulang sendiri dengan tangis dan hampa.
mengecap manisnya luka….(Kla, 2000) itulah yang kunikmati sejak kedatanganku kembali kesini.Mellow setengah mati.sepasang garpu dan pisau-pun bisa mengingatkanku padanya.seperti remaja tanggung yang kasmaran."Kasmaran?", entah, kami sama2 tau bahwa kami bukan lagi cinta monyet yang menggebu2. sakitku adalah menunggu ketidakpastian yang pasti.sakitku adalah hidup dijejak yang kami buat bersama, tapi sendiri.sakitku adalah hal yang kami, atau aku, nikmati..karena aku memang tidak punya pilihan kali ini…yang kupunya hanya harapan. tiap hari ku titi pembicaraan yang mengisi.ku buat seolah2 kami tidak terpisah oleh jarak,kuibaratkan dia selalu ada di sampingku. ku ciptakan duniaku yang sedikit mengalami modifikasi
kucoba hidup mandiri setelah ketergantunganku kemarin sempat membuatku takut. Nisa bilang: "…tunggu 3 bulan hingga kau akan lupa sendiri", haha adik manis, aku tak punya waktu selama itu untuk berduka. aku punya segudang pekerjaan yang mengejarku tepatnya. jadi kuikuti saran geby, kujalani saja, dan saat aku ingin menangis, kutumpahkan tangis sejadi2nya…yang penting aku puas karena aku masih punya harapan.penghuni yang pernah bersamaku itupun tidak menunjukkan perubahan yang berarti. kami semakin expressive dalam mengungkapkan perasaan kami.haha jauh dan jarak malah membuat kami menjadi dekat. lucu sekali hidup ini kadang…
hingga kemarin seorang kawanku berkomentar..:"kita lihat saja sampai berapa lama bertahan seperti ini…" AAAARGH!, dalam sekali??! bagai tikaman langsung ke dadaku.terhujam setelah terhunus tanpa sepengetahuanku.dada ini sakit dan mata ini tiba2 mengalirkan air hangat yang deras.tiba2 aku berpikir. bagaimana jika ia benar? bagaimana jika kemesraan dan kehangatan itu tidak bertahan lama? bagaimana jika satu diantara kami tiba2 berubah?bagaimana jika ternyata kami memang sungguh tidak berjodoh, dan bagaimana jika kami sungguh benar berpisah..pisah dan tak kembali?beku karena kami telah terbiasa untuk berpisah?akankah sama saat kami, mungkin, bertemu kelak?bagaimana kalau dalam waktu yang tidak lama lagi memang kami akan menjadi biasa dan tak ada jejak???
kenapa sejuta tanya ini masih menghuni kepalaku?
aku tau tak akan ada jawaban yang pasti.tapi aku kembali membayangkan itu terjadi.sungguh sifat buruk yang tidak bisa kutahan prepaid sadness ini sudah menjadi penyakit yang menggerogotiku-kah?
sayang aku tak punya waktu untuk bersedih. waktuku sudah habis untuk bersedih, aku harus kembali ke dunia nyataku sekarang.aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab atas beban di pundakku.doakan saja kawan. doakan aku bisa menyelesaikan semua ini. karena jauh di lubuk hatiku aku sungguh menyadari bahwa apa yang kurasakan ini tak ada seujung kuku dari apa yang orang lain derita.aku masih harus lebih sering bersyukur. paling tidak bersyukur karena perjalananku ke negeri asing itu membawa kesan yang indah di hatiku, walau belum tentu aku pemiliknya…