Oh, boleh /(ini) kah (indah) mendua?
September 30, 2006
beberapa waktu yang lalu di hadapnku muncul suatu pertanyaan, dari, sebut saja seorang kawan…
jika, kisah asmaramu terlalu stagnant atau kekasihmu tidak bisa memberikan harapan, apakah layak bagimu untuk melakukan, atau sekedar berfikir untuk mendua? apalagi jika memang ada jejaka yang dekat denganmu, belakangan mengisi hari-harimu, memberikan perhatian yang cukup signifikan, walau tidak sampai keterlaluan, membuatmu nyaman berlama-lama di dekatnya,vice versa, memungkinkanmu untuk berjam-jam berbicara dengannya untuk mengenal masing-masing dan atau sekedar membahas perihal ringan yang bisa membuat mu tertawa, melumerkan semua kekakuan yang mungkin ada antara dua orang berbeda jenis kelamin dan latar belakang, dan yang paling gawat, membuatmu berharap dan berhayal akan hidup bersama dengannya….APA BOLEH??
ditanya seperti itu aku tidak bisa menjawab langsung.hmm biasanya otak ini lumayan encer untuk mencerna masalah-masalah psikologi..kenapa sekarang tiba2 ‘mandeg’? sekedar wacana saja, aku jenis orang yang sangat percaya cinta..hmm so-so lah, tapi dari jenis cinta pada pandangan pertama, cinta buta, cinta karena (ter)biasa (wit-ing tresno jalaran soko kulino - proverb jawa red), cinta yang tumbuh atau bahkan cinta terlarang…biasanya saya jenis ‘pengompor’ dan ‘pendukung’ pasangan2 kasmaran karena saya sangat percaya akan adanya cinta.
kembali ke pertanyaan kawan tadi,selintas saya sempat berfikir: selama penghayalan itu bisa dikendalikan, selama "nggak ketauan" (toh selalu ada kekasih resmi yang selalu bisa dijadikan’cadangan tetap’?), selama manfaatnya positif dalam menggenerate hari2 indahmu, selama suka sama suka, selama akal sehat tetap diatas segalanya, kurasa nggak papa….
nggak papa?? tapi…
itu sama artinya dengan mendorong kawanku tadi melakukan perselingkuhan khan? iya kalau ‘kekasih’ yang dia ceritakan itu belumlah resmi menjadi milik, bagaimana jika sebenarnya ia menggunakan kata ganti ‘kekasih’ untuk membahasakan ’suaminya’?, perkaranya jadi lain khan?
tapi sepertinya temanku itu sudah-lah sangat ‘ke-edanan’ dengan jejaka barunya. entah apa benar lelaki yang dia deskripsikan sebagai ’selingkuhan pembawa semangat’ itu menaruh hati padanya? atau jangan2 hanya sekedar, hmm, ya kebetulan baik saja padanya? 1001 cerita tentang kebaikan dari jejaka itu keluar dari mulutnya setiap menit…pyuh!bagai cerocosan remaja tanggung yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya, kelihatan sekali dia sedang kasmaran, fall in love, jatuh cinta dengan sumringah.ngah!
hmm, lantas bagaimana dengan kekasih ‘beneran’nya ya? apa kawanku itu juga menceritakan kepada kekasihnya perihal ‘jejaka’ tersebut?..belum tentu jawabannya tidak! ~ jangan salah, ada cerita dari teman yang lain, kalau dia selalu mengkomunikasikan selingkuhan2 nya kepada kekasih resminya, tapi dia tidak bodoh, tentu dengan alibi (baca=kebohongan) yang berlipat ganda supaya tidak timbul curiga! pengendalian bohong nomor wahid lah!tapi yang jelas dia melakukan ‘pengakuan dan pengenalan’ itu dengan tujuan tertentu. kalau kelak tak sengaja terucap atau kalau tiba2 ada janji dengan selingkuhannya, dia bisa dengan santai melenggang dan meminta ijin : "Mas, aku pergi sama si X ya, itu temenku yang aku ceritain dulu, tuh!…"
tapi kawanku yang ini? apa dia penganut modus operandi yang sama? aku tidak tau.hmm sekali lagi belum bisa kujawab boleh tidaknya ia ‘berpindah’ kelain hati seperti itu. walau mungkin hanya sejenak, musiman saja. tapi dimataku dia menjadi sedikit ternoda. atau sebenarnya ia hanya melakukan kegiatan biasa saja? bukan perkara yang rumit?
ah entah lah, aku sudah terlalu jauh berfikir ke kanan dan kekiri hanya untuk menjawab pertanyaan Boleh/Tidak kawanku tadi. terserah dia saja lah. dia juga tidak salah toh karena memang kekasih resminya (belum) mampu memberikan suatu kepastian? (^_^)
….oh ini kah indah mendua?…. (Audy, 2001)
***