6 Januari 2004

March 25, 2007

Australia (cerita berikut hanyalah khayalan belaka, jika ada kemiripan kejadian atau nama tokoh, itu hanyalah ketidaksengajaan dari penulis…)

Hari itu hari selasa… ya, aku masih ingat benar! Selasa malam rabu tepatnya…

Tanggal 6 Januari 2004

Hari yang aku tunggu-tunggu sekaligus aku takuti. Hari dimana kali pertama aku tinggalkan keluargaku, kawan-kawan, karir dan mungkin seluruh kehidupanku, untuk pergi ke suatu tempat yang jauh….

…Hari dimana aku Mati??,

bukan! tidak se dramatis itu…ehm… paling tidak belum…

~~~

“Langkah pertamaku di lorong dengan banyak bilik -yang kala itu terlihat lengang dan nyaris tiada suara- ke sebuah bilik berbentuk ruang persegi yang harus aku bagi dengan dua student lainnya saat itu terasa agak berat…walau ini kali pertama aku punya meja berpartisi yang bisa kuanggap kantor, lengkap dengan rak buku, lemari, komputer, printer dan akses internet; plus kunci pribadi yang bisa kucanteli gantungan kunci bertuliskan “Aulia”, hadiah dari Tania sahabatku sebelum aku berangkat… 

Ahhhh, tetap saja semua itu tidak mengubah senyum getir yang menghiasi bibirku saat itu jadi tawa bahagia…

Ya, kuakui, aku takut………

Takut andai dua pelajar yang berbagi ruang belajar dengan ku tidak suka dengan ku,

Wah,aku bisa nangis Bombay kalau begitu!,

Takut ada yang memperlakukanku secara tidak menyenangkan  di negara itu– walau jauh hari sudah kupersiapkan resiko itu;…

………..”Jangankan cuma di -pisuh-i, atau diteriaki dipinggir jalan… Aku bahkan siap jika ada orang memukuliku!”, ujarku dengan nada tinggi..”Namanya juga datang kenegeri orang yang katanya rasis, dan kabarnya mereka tidak suka muslim, jadi sudah jadi bagian dari resiko dong kalau aku dibegitu kan!, salahku sendiri pake identitas muslim tapi tetap nekad pergi!”…pernyataan yang belakangan ku tau ternyata membuat kedua orang tuaku makin ketar-ketir melepas kepergian anak gadisnya…, merekapun takut…

Takut akan mata kuliah-mata kuliah yang mungkin akan membungkam dan manenggelamkan otakku, atau paling tidak bikin aku jadi kejang…

Aku tidak pintar; aku tau benar itu. Aku beruntung dan disayang Tuhan!, ya..itu mungkin keadaan yang lebih tepat…tapi entah mengapa orang sulit percaya…

“Buktinya lo dapet beasiswa PhD, bokis lo kalo bilang lo bego…”, dengan emosi Tania, katakan itu suatu waktu…

”Nggak usah di deny Lia, kamu memang pintar, tapi kadang sifat malasmu jadi membuat kamu bahkan enggan untuk mengakui kamu pintar”, begitu pula yang dikatakan Pak Arto, pembimbing thesisku dulu…

Tapi ini kan otak ku…aku yang lebih tau…mereka tidak pernah tau kalau setiap ujian aku harus tidak tidur berhari-hari demi hanya mencoba memahami untaian kalimat dalam buku teks yang bahkan tidak ada indah-indahnya untuk dibaca, apalagi diingat; mereka juga tidak tau bahwa aku harus menderita migraine berkepanjangan, sampai lima,bayangkan, lima kali ke dokter!!, saat aku terpaksa (atau dipaksa?) harus mengulang mata kuliah bahasa inggris yang tidak boleh aku drop

ngomong memang gampang, pada sok tau! enak aja mereka bicara…!”, batinku kesal

Takut akan kawan-kawan lain yang juga belajar di lorong ini, didalam bilik-bilik yang tertutup rapat itu. Bagaimana jika mereka semua adalah jenis kutu buku nan pintar yang individualistik dan tidak suka bergaul kecuali dengan buku dan tugas?, hiiiy!, bulu kudukku berdiri… kalau memang benar seperti itu, jangan-jangan apa yang pernah dikatakan Noor ada benarnya. Noor adalah orang yang duduk disebelahku saat di pesawat yang membawaku ke negara pojok bawah (down-under) di tanggal itu. Tanggal 6 Januari 2004.

“…Aulia, saya dengar banyak pelajar doktoral yang mati bunuh diri, lompat dari ketinggian…!!, nggak kuat sama tekanan-nya kali?!, berat lho!”,

asem benar mendengarnya…,

… Juga Takut akan kemampuanku berbahasa inggris;

Sial! Kenapa dulu tak kudengar perkataan Ibu Nancy atau Pak Abung guru bahasa inggris ku di sekolah? Aku malah memilih cabut saat pelajaran itu demi jajan bakso dan somay di belakang sekolahan…Dan kenapa kenakalan itu kupertahankan saat aku dengan bangga pamer didepan kawan-kawan saat memperoleh nilai “E” untuk mata kuliah bahasa inggris!,

uhhh, penyesalan memang selalu datang terlambat!. diluar kesadaranku,

aku tetap benci bahasa inggris!

~~~

…Tetapi jujur, yang lebih kutakuti adalah hari-hari ku kelak yang akan ku lalui di negeri kangguru ini; empat tahun, 1460 hari, dan entah berapa jam atau detik lamanya jika kukonversikan ke satuan yang lebih kecil lagi.

…”Empat tahun Aulia?, kamu gila ya? Lama amat!  betah ya belajar terus nggak berhenti-berhenti? Lantas kapan mau menikah? Nanti jatuhnya dosa lo! Nunggu jadi perawan tua? Cari pacar! jangan cari ilmu terus…wanita mah ended  nya di dapur juga!, pendidikan tinggi-tinggi malah bikin pria lari, tauk!, mau ngejar pria model apa kalau kamu udah jadi Doktor? Profesor botak? Suami orang?Duda?…

….Amit-amit jabang bayi!!!, Grrrr, heran kok ada ya orang se-usil itu berkomentar? Saudara bukan keluarga juga bukan kok berani ngomong begitu, mana nggak pake mikir ngomong se-gamblang itu, plus nggak ada saringan-saringannya barang sedikit! Aku geram sekali…

Ya, kuputuskan untuk acuhkan semua komentar itu, komentar yang sempat membuat surut langkahku sebelum tanggal itu. Tanggal 6 januari 2004. Komentar yang tiba-tiba kembali menari-nari dikepalaku saat kuberjalan di lorong itu; tiba-tiba…

Eitt, ini awal aku memulai hariku di negeri ini, dan ini hari pertamaku di universitas ini!!, jangan rusak momen itu!,, ingatku,

Negara ini indah, teratur, dan yang paling penting sudah memberiku kesempatan untuk melanjutkan sekolah, apalagi aku sekolah di Universitas unggulan di Australia. Tempat dimana orang-orang serius belajar, tempat dimana aku akan merasa kerasan, tempat dimana aku akan sukses berkarya!!, Amien!!

begitu gumamku berulang-ulang, sekedar melonggarkan keteganganku yang semakin memuncak. Hingga akhirnya aku terpaksa berhenti bergumam ketika handle pintu ruang belajarku perlahan ku buka…

desiran darahku berhenti sejenak, aku menarik nafas panjang…

~~~

(enam  minggu kemudian…)

…”Iya ma, Aul yang giliran masak, masak sendirian loh!, cepet lagi…Cuma 2½ jam…”

“masak apa?Hmm:pepes ayam, kering tempe,sop iga, rendang ama kerupuk”,

“hah? Ya nggak doong! Enak aja bumbu instant, ya ngulek sendiri lah ma”, “apa? ooh, bukan, itu mah acara kemarin sama international student…

ini acara di office ma…”

“hahaha, iya deng, bukan office, kampus..ruang belajar, mirip-mirip lah ma, ah mama protes aja!”,

eh sebentar ya ma, ada yang ketok pintu……

(Aulia) “ok, thank you, I’ll catch up…you just go there first!”…

“…Mah, udahan dulu ya, acaranya udah mau dimulai nih, Aul udah dipanggil…!”

“…bukan ma, bukan ulang tahun, Cuma makan siang aja…emang temen2 dikantor, eh kampus, suka centil ngadain makan bareng tiap hari rabu dan jum’at, pas giliran sekalian perayaan kecil-kecilan…Aulia baru dapat tambahan beasiswa untuk riset plus Alhamdulillah paper Aul diterima di konferensi ma, pokoknya asyik deh ma!”…

Let’s eat guys!

~~~

Hari ini tepat 740 hari dari tanggal itu. Tanggal 6 Januari 2004. Tanggal yang tak lagi kutakuti, tapi kusyukuri…tanggal dimulainya perjalanan dan perubahan indah dan dramatis dalam hidupku…berarti sekarang sudah separuh perjalananku di negara ini, tinggal separuh waktu lagi…

Semua ketakutanku sirna dengan sendirinya…

Kedua teman di ruang belajarku sangat ramah dan baik hati. Mereka dengan rela melatih kemampuan bahasa inggrisku, ya, bahasa inggrisku!;

Teman-teman di lorong bukan seperti kelompok mahasiswa tingkat doktoral yang sering orang gambarkan, banyak diantara mereka jauh lebih muda dariku…hangat dan rendah hati, balance antara otak pintar dan pergaulan. Semua mata kuliah Alhamdulillah kuselesaikan dengan nilai yang cukup baik, itupun berkat belajar kelompok yang kerap kami lakukan sembari makan siang setiap rabu dan jum’at…

Negara ini juga tidak seburuk yang kukira…

Satu-dua kali pernah kurasakan umpatan kasar dari pengemudi mobil yang melintas. Tapi cuma sebatas itu, paling-paling orang mabuk.

Rasis?Anti Muslim? Biasa saja. Tidak ada yang spesial. Itu sungguh berdasarkan apa yang kualami. Kalau boleh jujur orang-orang disini memperlakukanku seperti ‘manusia’…sepertinya aku adalah “Aulia”,hanya Aulia, Aulia yang diukur dari kemampuannya dan bukan berdasarkan embel-embel lainnya.Tidak ada lagi usilnya komentar orang yang syirik dengan kebahagiaan dan pencapaianku.

Aku juga merasa tidak jauh dari orang-orang yang kutinggalkan di negeriku. Tiap saat aku bisa menghubungi mereka. Teknologi telekomunikasi rupanya sudah jadi jembatan berharga yang murah dan mudah diakses.

Keluargaku disini malah bertambah besar, dengan teman-teman senegara yang 24 jam memperhatikanku, dan kawan lainnya dari berbagai negara…aku banyak bertambah kawan…teman, sahabat dan kerabat…instant, ketemu gede’…

Singkatnya, tak ada istilah ‘home sick’ yang pernah mampir di kamusku…

…Aku Kerasan…

~~~

Jalanku di sini masih panjang…separuh waktu lagi…tapi sudah dapat kembali kuterawang ke belakang tanggal itu. Tanggal 6 Januari 2004. Tanggal dimana jika mengingatnya saat ini bisa membuatku bibirku tersenyum lebar. Ku syukuri karunia ini…kucatat rapih setiap hariku di negara asing ini…

tidak, tidak lagi asing…, ku ralat,  negara yang kuanggap rumah keduaku…

Namun aku masih mengenang dan merayakan; 

mengenang saat naifku,

mengenang saat itu, 

merayakan kedewasaanku,

dan merayakan keberanianku melangkah

    masuki dunia baru,di setiap tanggal itu.

Tanggal 6 Januari 2004

~~~ tamat ~~~ 

Keterangan:

ﻏ        Nangis Bombay                        menagis dengan keras tiada henti

ﻏ        Pisuh-i/ Misuh                         Marah-marah/ mengumpat

ﻏ        Ketar-ketir                               khawatir

ﻏ        Cabut                                       madol, bolos saat pelajaran

ﻏ        Bokis                                        berbohong

ﻏ        Bego                                         kurang/tidak pandai

ﻏ        Deny (English)                           menyangkal/mengingkari

ﻏ        Migraine (English)                     sakit kepala sebelah

ﻏ        Drop (English)                          batal (mengambil mata kuliah)

ﻏ        Handle (English) pintu               gagang pintu, tempat membuka pintu               

ﻏ        Ended (English)                        berakhir

ﻏ        Tauk!                                       Ungkapan penegasan (kekesalan)

ﻏ        Amat                                        sangat, terlalu

ﻏ        Mikir                                         (ber) fikir

ﻏ        Instant (English)                         seketika, jenak.

ﻏ        Ngulek                                     menggerus/menghaluskan

ﻏ        Office (English)                          kantor

ﻏ        Centil                                       Genit, iseng

ﻏ        Paper(English)                          kertas/ Karya tulis

ﻏ    Balance (English)                       seimbang

        Homesick (English)                Kangen rumah

ﻏ    Syirik                                  iri, dengki, kurang suka

~ kasihan dia ~

March 13, 2007

Img_5979kasihan dia yang terdesak karena keadaan,

kasihan dia yang harus berkorban demi sesuatu yang belum juga nyata,

kasihan dia yang harus terhakimi karena kisahnya,

kasihan dia yang terpaksa menikmati sendiri luka dan hina,

kasihan dia yang terlanjur terbebani karena pilihan hidupnya,

kasihan dia yang terpojok hingga diluar batas kesabarannya,

kasihan dia yang terjerembab kedalam lubang yang digali pendorongnya,

dam kasihan dia karena harus terseok memperjuangkan cintanya.

~kasihan dia karena aku ada, kasih, kasihan aku padanya~

GG

‘one day we’ll harvest our happiness my love, amien..’

’sabar dan maafkan aku atas banyak hal yang  terjadi dan tidak terjadi pada hidupmu’

Cinta Hampa

March 5, 2007

Cinta, aku sedang tidak tau harus kemana aku mengadu,

aku sedang berfikir dengan kerasnya kepada siapa aku bisa bercerita,

kata-kata mu begitu menghujam, cinta!

atas nama cinta aku selalu berharap kau akan selalu mengerti,

walau ketidakpastian cinta memang sudah diujung kesabarannya.

walau ketiadaan harapan telah memaksa cinta untuk mati suri dan terduduk pasrah…

tapi tak pernah kupikir kalimat itu sampai pernah keluar dari mulutmu!

cinta!sengaja atau tidak, aku sakit!bukan hanya kamu yang sakit!

aku lelah mengembara, seperti halnya kau letih berupaya..

tapi bukan itu alasan untuk menumpahkan kesal dan marah.

aku masih luka, cinta. maafkan aku untuk sendiri mengobatinya.

jenuh celaka di sudut penantian ini memintaku mengumpat dan bertanya:

‘Apakah benar kau, Cinta?’

Gitag

GG

~hampa berlayar, akankah berlabuh? ku mengejar bayangan kian menghilang"

(Katon Bagaskara)