… Mundur
May 19, 2007
Sepertinya aku mau ikut campur..
tapi bukan! bukan itu! percayalah!
perasaanku terlalu kuat untuk menahanmu mengambil keputusan itu
tapi aku tau kau sedang berbahagia…
meskipun aku merasa ada yang salah!
ada yg tidak benar sedang terjadi, dan fatal kalau dilakukan
pengalamanku berkata demikian..
tapi dipangkuanmulah aku menyerahkan keputusan
karena ini hidupmu. urusanmu. pilihanmu.
jangan salahkan aku kalau kelak aku benar
jangan salahkan aku kalau aku kemudian menjauh
karena dengan teori apapun tidak bisa kujustifikasi kelakuanmu
sedih dan berat menjauhimu, tapi itu lebih baik daripada aku membencimu lebih jauh
Semoga Tuhan merestui pilihanmu, semoga tidak ada lagi hati yang tersakiti..
ijinkan aku untuk mundur…
GG
Rasaku saat ini padamu dan kamu.ya kalian berdua! sekalipun kisah kalian berbeda, tapi ungkapan diatas semoga bisa menjelaskan sikapku. Mulai sekarang hanya dari dua jendela ini aku akan melihat kalian dari kejauhan…
Aku yakin kalian tau siapa kalian!
I Love You, Om!!
May 9, 2007
"Seumur-umur!….
Saya belum pernah menganalisa film, apalagi buku, di media umum semacam ini…berhubung memang pada dasarnya kondisi kejiwaan sedang tidak stabil, jadi untuk mengalihkan perhatian dan menimbang permintaan berbagi pihak (Ma’acih Om Alex, ‘dik ari dan ‘dik endah, ehhehe), maka saya memutuskan membahas film yang baru saya tonton di You Tube (walau hilang 2 sesi, hiks..bagian penting pula!), dan yang semalam baru kukupas dengan dik widya sampai dimarahin tetangga karena berisik, hehehe…
Tulisan ini gak akan membahas jalan cerita dalam film, karena kalian sendiri bisa membacanya dari sinopsis yang saya kutip di bawah… yang mau dibahas disini adalah ‘isi’ dari ceritanya dan kaitannya dengan saya…Otre?
Membaca pertama kali judul dan nama pemain, samasekali saya tidak tertarik. Akhirnya karena tak ada pilihan film lain di you tube, barulah saya menontonnya.tapi begitu melihat, langsung terobsesi. dari beberapa discussion board yang saya browse via google atau yahoo, rata2 ada 2 general comments:
1. Mencaci dengan aling2 ketidakpantasan dan ketidakwajaran cerita (well, ini inspired by kisah nyata lo!)
2. Memuji karena membangkitkan notalgia masa kecil
Pyuh! saya termasuk kategori nomer 2. Menonton film ini benar2 membawa saya ke alam kanak2 saya dulu.dulu saat umur saya berada di kisaran umur Dion.10 hingga 15 tahun (i.e. 15-20 tahun yang lalu!celegukk!). kalau mau jujur, dan kalau mungkin di list, cukup panjang ‘dosa’ saya dalam menyukai Om2 yang pernah berlalu dalam hidup saya. well, gak terlalu om2 sih, karena beda usia, yaah paling2 5 - 10 atau maksimum 15 tahun, hehehe.Sedikit perbedaan latar belakang dengan cerita Dion difilm ini, saya melakukannya bukan karena kurang kasih sayang dalam keluarga, tapi justru karena saya berlimpah kasih sayang, sehingga saya mau mencari hal yang sama di luar rumah.lucu kan? dan kenapa harus laki2?? karena saya memang suka laki2, hehe nggak ding, maksudnya karena saya tidak pernah punya kakak laki2 (kebetulan juga saat kecil kurang akur sama kakak perempuan, hihi sorry dorry nih mbak!).. oleh karena itu saya selalu mencari figure kakak laki2 yang bisa menolong, melindungi, membuat saya selalu merasa aman dan diperhatikan diluar perhatian yang saya peroleh di dalam rumah (yeah, mungkin kombinasi antara kebanyakan nonton film ama gatel!)…
Untuk nama2 gak etis lah ya disebutkan disini, hehhee.. tapi alias bolehlah…intinya, walau dalam pencarian pria dewasa demi pria dewasa itu, gak sedikit diantaranya yang kemudian menjadi GR (hmm someone, if you read this then you’ll smile
karena menyangka saya dekat karena ada hati.. lagi2 lain dengan Dion, saya kala itu bukan (dan belum seberani itu) untuk menyadari rasa, mengekspresikan perasaan, dan berubah menjadi ‘bitchy’ like Dion..nggak lah!.
ya bergenit2 ria mungkin wajar lah. berusaha berpakaian rapi, berusaha untuk bisa berbincang,belajar lebih rajin, berupaya keras untuk bertemu, etc…
tapi saya rasa dulu itu bukan cinta..hanya rasa sayang (semoga tidak berlebihan). Tapi saya sungguh merasakan kebahagiaan dengan melakukan itu…
Wait a sec, jangan langsung menuduh aku psikopat masa kecil ya! hehehe
Mungkin latar belakangku yang amat sangat tomboy yang membuatku mencari figure kakak laki2 yang bisa ‘ngemong’ dan ‘mengatur’ ku…Sebut saja kak ‘Nda, pembina pramuka masa SD yang selalu melindungiku kalau jurit malam dan menyelamatkanku dengan memanggilku dan berbicara lama2 di ruang guru kalau ada kerja bakti; atau kak nunu, senior pramuka masa SMP yang selalu memberi perhatian lebih baik tindakan maupun moril, sampai ada insiden pembina pramuka yang menuduh dia ada maksud lain padaku; atau kak Ib, guru les bimbel yang misterius tapi selalu senang mengajak berdiskusi, memuji keuletanku dalam matematika, dan selalu tersenyum melihat kekonyolanku (dan sekedar tidak sengaja lewat depan rumahnya saja sudah membuatku panas dingin), hihihi dan sederetan nama lain yang bisa membuatku tergelak dan teringat, semua berkat film ini…
sekali lagi, semua hanya saya anggap kakak, saudara, gak ada harapan lebih atau keberanian mengungkapkan perasaan seperti Dion (karena saya percaya mengungkapkan perasaan-duluan- adalah tabu bagi perempuan; dan ari gitu, gak kepikiran kalee)…
‘kebiasaan’ ini sempat mendapak komplen’ dari mama "alah mbaaak mbaak, kalau semua kamu anggap sodara, kakak, trus kapan punya pacarnya?" hihihihihi, komen itu dibuat saat saya sudah dewasa ya, jangan nuduh mama saya gatel pengen anaknya cepat kawin… walau sampai sekarang memang saya belum menikah..maaf ya maaaa… sekarang cari jodoh deeeh off cari kakak dulu, hihihihi…
tapi karena memang saya merasa ‘nyaman’ dengan kondisi per kakak-an tersebut (didukung ketidakpercayaan diri yang luar biasa akibat luka masa silam, ah sudahlah), maka memang saya sempat undur diri dari dunia persilatan mencari jodoh. lebih enak mencari kakak. lebih tulus.lebih nyaman.lebih bebas & tidak canggung.dan paling sedaph adalah, bebas dari kemungkinan sakit hati berlebih
Ah ha, bagaimana dengan kalian? pernah punya kisah seperti ini?, sedang mengangguk2 tanda setuju atau teringat kisah sendiri ataupun geleng2 kepala "ya ampyun si-gita ternyata…!" atau bahkan berniat menonton kisah ini? untuk yang punya anak kecil, saya sarankan untuk tidak menonton ini (dulu) dengan mereka, atau menonton dengan bimbingan orang tua… karena salah2 mereka bisa terinspirasi dengan kisahnya
bisa gawat dan ‘merinding’ nanti!
eniweeey,
saya tau kalau bahasan ini ngalor ngidul gak jelas…entah kalian bisa menangkap intisari cerita atau nggak. ini sekedar curhat pribadi dan pengeluaran unek2 aja,gak sedetail curahan perasaannya angelina sondakh ke adjie massaid, mantannya, di blog angel memang…tapi ya sudah membuat saya sedikit terobati… apalagi posisi lemah lunglai seperti ini saya biasa mengadu ke ‘para kakak’ saya…tapi kali ini memang sudah masanya saya berdiri tegak sendiri, bertanggung jawab atas kesalahan saya…
terima kasih "I love you, om’, you cheers me a lot!
I really miss those times……
I Love You, Om… bercerita tentang Dion (Rachel Amanda), gadis berusia 11 tahun yang kehilangan ayahnya sejak berusia lima tahun. Ketika dirinya memerlukan kasih sayang, Dion justru kehilangan figur seorang ibu (Ira Wibowo) yang terlalu sibuk mengejar karir.
Pada saat bersamaan, Dion mengenal Gaza (Restu Sinaga), pria 35 tahun yang tak lain pegawai binatu yang sehari-hari mengantarkan cucian ke rumah Dion. Melihat kesedihan Dion, Gaza yang oleh Dion selalu disapa Om Gaza itu sedikit demi sedikit memberikan perhatian pada Dion.
Hingga satu ketika, karena mendapatkan perhatian dan kenyamanan dari Gaza, timbul perasaan cinta dalam hati Dion terhadap Gaza. Yang semula hanya dipendam, akhirnya Dion berani mengungkapkan perasaannya pada Gaza.
Pertama mendengar ungkapan hati Dion, Gaza hanya menganggap sebagai lelucon. Namun, seiring waktu dan perhatian yang diberikan Dion terhadapnya, Gaza yang dikhianati mantan kekasihnya, Nayla (Karenina), mulai memiliki perasaan lain.
Namun, mengingat perbedaan usia yang terlampau jauh, Gaza mencoba menutupi perasaan tersebut. Sebab, baginya, perasaan lain terhadap gadis cilik yang lebih layak menjadi anaknya itu memang harus dilawan. Tapi, kekuatan cinta tersebut terus berontak hingga nyaris mengalahkan logika.
***
TOLOL!
May 8, 2007
saat ini…aku sedang merasa tolol…
anulir, lebih tepatnya aku memang tolol.
sedang terbuka ketololannya.
celakanya aku tak tau harus berbuat apa.
sialnya aku tak mengerti bagaimana menghilangkan ketololanku
tolol kau gita!
