‘belum…

July 19, 2007

belum pernah,

ia merasa sesakit malam itu. saat kenyataan mengulang cerita lalu

belum sempat,

ia kubur kenangan itu, ternyata ia yang sangat dekat dengannya menampar-nya dengan kata-kata terpedas yang tidak pernah ia harapkan.

belum habis,

dia mencurahkan perasaanya, berharap ia-lah pelabuhan terakhir tempat dimana dia bisa memperbaiki kapal hati-nya yang pernah karam; ketika dia dihadapkan pada kebimbangan hati akibat perkataan-nya.

belum genap betul,

keyakinan dia akan ujung bahtera yang akan dia bangun dengan-nya ketika apa yang dia anggap benar menjadi salah dan di hakimi seakan berlebihan dan memaksa

belum puas,

dia mewujudkan sesuatu yang ideal dari pelajaran hidupnya selama ini dengan mematri dan membenahi apa yang ada karena ternyata tak bertepuk sebelah tangan lain-nya?

belum pasti,

kebahagiaan menjelang-nya kelak setelah berjuta keraguan menggelayut dari kalimat dan raut muka mereka yang tidak merestui pilihan hidup-nya.

belum bosan,

dia melindungi-nya dengan tubuh lemah tak berpendirian penuh ketidakyakinan dari terpaan keraguan orang sekitar,

belum sanggup,

ia menutup semua kekhawatiran bahkan dari hati kecilnya yang setiap kali berlomba-lomba untuk mengemuka.

belum tahukah ia?

bahwa kata-kata itu sungguh menyakitkan sampai kedasar perasaan dan mengorek luka lama yang teramat pedih, membuat dia tak lagi mengerti; mana yang benar dan mana yang salah? membuat dia semakin meragukan akan masa depan hubungan mereka? membuat dia menangis dan merenung semalaman?

bahwa ia adalah harapan,

bahwa ia adalah pembenaran dari kealpaan yang pernah terjadi,

bahwa dia begitu berusaha memberikan dan menumbuhkan cinta untuk-nya,

bahwa dia begitu berharap banyak akan pengertian-nya,

bahwa ia sedang menghadapi kristal rapuh yang pernah jatuh terburai,

bahwa dia tak ingin ia persalahkan,

bahwa dia mencari pasangan jiwanya,

bahwa dia bisa jadi tidak memilih-nya???

belum jauh,

dia berjalan; namun pijar semakin padam. dalam gelap dia terus meraba dan bertanya: betul-kah (harus) ia??

GG

2am 20/07

"ulam-ungas-uka-berunya’: uta-upa’, uta-unja-urang-upan!"

"uta’-usa’-uma!, uyan-unas! uta-ubal-uma!"

Kufur Nikmat

July 3, 2007

Akhir-akhir ini saya sering terlibat pembicaraan, mendengar keluh Img_6280kesah atau sekedar tidak sengaja membaca situasi akan kejenuhan, kelelahan, ketidak puasan dan segala ‘aura’ negatif lainnya dari orang2 yang tidak puas akan sesuatu…

‘kalau begini caranya bagaimana bisa betah?’

‘gila, kerja rodi gue! sampe gak punya social life samasekali!’

‘mereka gak mau ngerti sih, mereka gak asik’

‘gue sekedar bertahan aja disini, kalau mau jujur, cuman karena gajinya gede aja gue bertahan’

‘kapan gue bakal dikasi apa yang gue mau sih? sampai berapa lama lagi gue harus mendem, nahan dan bersabar?..sabar kan juga ada batasnya, toh?’

‘ini ga sesuai dengan bidang gue! gak suka kalau dipaksa begini!’

‘kalau diluar sana ada yang bisa lebih menghargai gue, kenapa tidak kan?’

’sial! kenapa harus gue sih yang kena?’

‘gue deserve dapat yang lebih baik!’

‘gak tahan gue,edan!, kenapa sih ini harus terjadi pada gue?’

‘kenapa sih laki gue ga romantis samesekali?’

‘biar kata lo bilang dia baek juga, bukan berarti dia yang paling baik, kalee!’

‘kapan gue bisa kayak mereka?’

‘kenapa sih hidup gue ditentukan orang? mau2 gue dong! gue pengen bebas!’

dan jutaan keluh-kesah, pengandaian dan harapan setinggi langit lainnya. Mungkin karena kacamata yang kupergunakan dengan mereka. mungkin saya terlalu kolot. mungkin saya terlalu mudah dipuaskan. dan mungkin pernah ada saat dimana pernyataan sejenis saya lontarkan dari mulut saya. "Tapi!…yang jelas dengan menimbang semua konteks yang melatarbelakangi masing2 pernyataan diatas, saya menjadi berfikir dengan kerasnya.

Kenapa sih orang tidak mau lebih dulu berusaha untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda, ketinggian yang lebih dan membandingkan dengan orang lain dalam arti yang berlainan dengan ‘pemuasan aku’?

Saya menimbang hal sederhana yang pernah diajarkan oleh guru ngaji saya sejak SD. "yang tau-lah bersyukur sebagai manusia.." kata yang singkat dengan makna yang dalam. entah karena budaya jawa yang kental mengalir ke darah saya atau hal lainnya, hal itu selalu terngiang dan menjadi acuan buat saya. nrimo’ pasrah’ sing legowo’..

kalau boleh saya menilai, pernyataan2 diatas seperti mengisyaratkan ke-kurang bersyukuran manusia akan keadaan, yang pada akhirnya bermuara pada ketidakpuasan kepada Sang Pencipta. Jika demikian jatuhnya bukankah sudah ‘kufur nikmat?’ Naudzubillahiminzalik….

pada dasarnya manusia memang selalu mencari yang terbaik. pada hakikatnya manusia memang sulit untuk dipuaskan, pada kodratnya memang manusia akan selalu membandingkan. Tapi mari melihat dengan cara yang beragam sebelum kita memutuskan untuk mengeluh. karena kufur nikmat akan menutup pintu rahmat kelak.

Coba pikirkan bahwa Allah selalu punya cara yang memang paling baik untuk kita meski bukan yang kita harapkan akan terjadi. dan betapa ada sekian banyak orang diluar sana yang sangat tidak seberuntung kita. belajarlah untuk menghargai segala sesuatu dari hal kecil.

semoga kita termasuk orang-orang yang tau bersyukur, dan tidak sampai kufur terhadap nikmat Allah. semoga.

GG

dedicated for you, dear…