Dsc00808 Membaca sebuah posting di Majalah gratisan 4 Indonesian disini bertajuk: "kesalahan wanita yang belum mendapatkan pasangan" saya jadi berfikir, kenapa wanita saja yang dipersalahkan? aih.. give me a break deh..ari gini, dinegara maju pula, masih bikin dan memuat artikel model gini?!

sekedar menalar - bukan dengan upaya bela diri - saya berusaha menjustifikasi keraguan saya. apa iya wanita yang bersalah?…

konon kabarnya wanit diciptakan dari tulang rusuk pria, oleh karenanya, cepat atau lambat waita akan menemukan pemilik tulang rusuk asal muasal ia diciptakan. well,ok. let say itu benar adanya… ada masalah pengambilan tulang rusuk dari kaum adam untuk kaum hawa (walau menurut mbak luc itu tidak benar jika ditinjau secara ilmu biologi, karena pria memiliki jumlah tulang rusuk yang sama dengan jumlah wanita!: Luc, 2007) tapi, apa iya tulang yang diambil itu sejatinya harus kembali ke pemilik-nya semula?sementara wanita ‘penerima donor’ tulang tidaklah selalu diciptakan dan berada dalam radius domisili yang bisa di jangkau. dengan menghitung kemungkinan magic, keajaiban dan ‘jodoh’ sekalipun, apa iya pasti tiap tulang menemukan rekan tulangnya yang sudh berpuluh tahun ia tinggalkan??

ok berhenti masalah tulang dan saya kembali ke topik semula. kenapa wanita yang dipersalahkan jika ia masih belum menikah, apalagi hingga usia menjelang senja. tidak senja sebenarnya, hanya diatas rata2 yang sudah menikah…hmm mungkin saja yang rata2 tersebut memang sudah ada jalannya atau memang ‘gatel’ - maaf- jadi lagi2 jangan menyalahkan perempuan yang belum (karena pilihan atau keadaan) menikah dong!. Besarnya tekanan sosial dan budaya di Indonesia memang tak bisa di pungkiri..tekanan akan kemapanan ‘versi masyarakat umum’ tak pernah bisa lepas dari kehidupan wanita sehari2. celakanya dalam lingkup budaya yang kental dengan "patriarki", dimana pria menjadi tulang pokok dari setiap permasalahan, perhatian dan kehormatan (tak hanya didalam keluarga), arah tekanan itu menjadi berluber dan tak terkendali kepada para wanita.

"kapan kamu punya pacar?" pertanyaan ini akan datang bertubi2 hingga pacar didapat; disusul dengan

"kapan menikah?" percayalah, ini biasanya memakan waktu yang tidak singkat, dan hebatnya dengan hampirseragam seluruh keluarga, family dan tetangga tidak bosan2nya megajukan pertanyaan ini hingga anda menikah..tapi tidak sampai disitu:

"kapan punya momongan?" duh!ini agak celaka duabelas, biar kata sudah upaya setengah mati sekalipun, apa mereka diluar sana tidak sadar bahwa biar kata usaha tiap pagi siang dan malamjuga kalau belum di amanahkan masih belumlah anak bisa kita peroleh?, well..katakanlah usaha mati2nya dengan terapi, alternatif, hingga bayi tabung dilakukan.hingga anakpun lahir. tetap saja mengundang komentar baru:

"kapan ‘nambah’ momongan??" heeee?? nafas dulu nafaas! ngerawat ini juga belum maksimal dan belum luruh capeknya masak harus nambah lagi…terus dan terus hingga akhirnya kita dengar:

"kapan nih mantu?!"

Pertanyaan ber modus operandi ‘lingkaran setan’ itu memang tiada habisnya. akan ada saja orang yg dengan semangat bertanya dan meggali2 hingga kita dapat dipastikan menjadi ‘jengah’ sendiri. bisa terbayang jika di siklus pertanyaan diatas, seseorang tersendat di tahap pertama: belum berpacar dan (apalagi) belum menikah. jika masih menghirup nafas di negara kita, asia, atau lingkungan yang ada orang indonesianya; siapkan saja menebalkan telinga hingga kekuatan sekian centimeter; mendinginkan kepala hingga beberapa belas derajat dibawah suhu normal ruangan; dan menghindari penyakit hati emosi hingga level minimum. siaplah mendengar pertanyaan, komen ’sok tau’, dan gunjingan yg tiada habis dan tiada kehabisan topik ttg ‘telat mendapatkan pasangan-nya kita’. herannya pula, komentardan pertanyaan ini ditanyakan - jangan kan oleh yng cepat kawin- tapi bahkan yang pernah mengalami kesulitan sekalipun. ibaratnya setelah terlepas dari ‘neraka dunia’ tersebut para wanita yang kebetulan secara sosial dinilai telah cukup beruntung itu seakan ingin, entah membalas dendam atau sekedar ikut2an agar dinilai telah ‘lengkap’ sebagai perempuan. hhhhhhsssshhhmm!

Dengan tidak perlu menjadi feminis sekalipun, memang kita bisa melihat dengan jelas ‘bias gender’ yang terjadi di lingkungan dan komunitas kita..sejak lama,lebih umum nampaknya kita lihat di majalah2 remaja artikel dengan tema "bagaimana menarik hati pria", "sikap kamu yang membuat pria mejauh", "rahasia mendapatkan kekasih (unuk wanita)", de el el…yang intinya ‘mengajak’ wanita berbenah diri agar bisa diterima secara sosial, dan celakanya, adalah tips khusus untuk bisa diterima oleh para pria2…

lantas,

apa para pria sudah bersikap dengan sedemikan baik dan sempurnanya hinga hanya wanita yang kerap memperoleh tekanan sosial ini? ha ha ha, tidak juga!, tapi apa lacur, yang menekan ‘wanita’ juga para ‘wanita’ itu sendiri atau lainnya kok!

Mungkin krena sedemikin kuatnya budaya mengakar, orang2 terutama para wanita ‘penekan’ itu tak paham mengenai alasan2 yang mungkin muncul diseputar alasan belum berpasangannya seorang wanita lain. "Ada yang nasib, memang belum saja ada yang di ‘pasangkan’ oleh Yang Diatas.titik. tanpa embel2 ‘terlalu pilih2′ atau ‘pasang standar terlalu tinggi’ atau ‘memang tak bisa menghias diri dan merawat diri’.

"Atau itu memang sebuah pilihan hidup. dengan latar belakang apapun sebelumnya, pilihan untuk menunda atau tidak berpasangan adalah hal yang bisa membahagiakan diri wanita tersebut.

‘lantas kok orang lain yang repot?!’

Sulit memang membayangkan komunitas dengan budaya kita bisa diajar berfikir apatis terhadap orang. karena sekedar mengomentari (baca: comel) atau menasehati dan terlibat (baca: ikut campur urusan orang), sudah ‘terlegalisasi’ sebagai bentuk perhatian yang sifatnya mulia dan luhur. aah,lihat saja pencetus ide saya menulis ini di paragraf pertama, bahkan di negara maju seperti Australia saja, mental ‘indon’-pun masih melekat sebegitu kuatnya di kelakuan dan pikiran masayarakat indo…well, tidak akan saya bahas lebih lanjut lagi agar tulisan ini tidak di kategorikan sebagai ‘pemecah’ dan ‘penghancur’ budaya aseli bangsa indonesia, bla bla bla…

Intinya, walau memng sulit megubah suatu kebiasaan: anda, saya dan siapapun yang membaca ini setidaknya bisa menimang2 uraian saya. apakah bijak jika anda - dengan alasan apapun- men’judge’ dan menggurui para wanita yang belum berpasangan itu tanpa sedikitpun berfikir bahwa ada hati yang terlukakan dan ada perasaan yang terkorbankan? berhentilah, walau bertahap, untuk mencampuri urusan orang. hindarilah mengasihani wanita2 yang inilai ‘belum beruntung secara sosial’. Karena pada dasarnya mereka adalah manusia normal biasa yang sama perasaannya seperti anda. belajarlah untuk emphaty pada perasaan orang lain. dan tidak dengan mnganjurkan untuk ‘mengalihkan’ tekanan dan perhatian kepada Kaum Pria, belajarlah untuk adil dan bijaksana dalam berpendapat dan bersikap.

"karena memang sesungguhnya tidak ada yang mengetahui sesuatu sebaik pengetahuan mereka yang mengalaminya…."

GG

Pelajaran baru untuk saya. ‘terima kasih untuk membaca!

saat…kenapa…apakah?

October 16, 2007

saat…

sesuatu yang tidak penting tiba-tiba menyeruak dan menghentak..

menghenyakkanku dari tempat berdiriku selama ini,

menamparku dengan segala ke ‘terlalu’ an-nya,

memaksaku untuk merenung dengan tidak habis pikirnya…

kenapa?

cuma itu yang keluar, karena kelu-nya lidahku dan sulitnya kunalar sikap dan fikiran mereka…

apakah…

kedewasaan sedianya tak tumbuh beriringan dengan usia?

apakah faedah akan ada bagi sesuatu yang sia-sia dan pemuas ego belaka?

saat, itu terbersit…

kenapa, sampai menjadi jurang…

apakah. tidak ada jalan keluar?

belum pernah skenario besar menohokku dalam kenaifan dan ketulusan seperti ini. menghadapi sosok keji yang nyata atau menerima salah dan balasan atas kekhilafan yang kuperbuat mungkin lebih mudah adanya…

saat ini kenapa harus ada dengki apakah aku salah?

Dsc00487GG

toad hall, tempat hidup yang jusru menghakimi kehidupanku..

Angel Does Exist!

October 9, 2007

Smoke alkisah…

semalam, malam benar, kami terdampar di depan mercu suar wollonggong dengan keadaan mesin mobil (pinjaman) kami berasap/beruap. in the middle of nowhere, di ujung sebuah kota kecil yang berjarak beberapa ratus kilometer dari kota dimana kami tinggal, dengan medan yang terjal dan menanjak tajam dan menukik jika kami pulang, perbekalan seadanya, jaket pun tiada, singkatnya, no hope.

datang, out of nowhere juga, seorang pria paruh baya, Muslim asal timur tengah, mendekat ke mobil kami, bertanya ini itu, membantu men cek semua hal di mesin mobil; mengantar kami mencari air untuk mengisi radiator, mengakali mesin supaya bisa terus berfungsi dengan (darurat) normal dengan 1001 wejangan tentang mesin mobil yang kami baru tau.hampir 3 jam dia membantu, tanpa bertanya tanpa meminta dan tanpa tujuan. ketika pulang-pun kami yang nekad ini-karena tidak tau jalan atau arah pulang, tanpa secarik peta-pun pula-jam 11 malam pula!!- masih dia antar sampai ke pintu gerbang kota tempat dimana kami aman dilepas untuk menuju tempat tinggal kami…dengan beberaa kali mengulang dan mengajak kami untuk menginap di tempatnya jika kami tak yakin bisa aman pulang malam hari…dia pun dengan cekatan memberikan nomer teleponnya dan meminta telepon kami jikalau ada apa2 sepanjang perjalanan pulang ke canberra, dia akan siap mendatangi kami.

semua hanya for the shake of brotherhood in Islam. Subhannallah!!

temanku berkata, mungkin dia concern karena lihat aku berjilbab dengan teman2 laki2 lainnya (hmm, yang dia kira suami dan temanku!..ehm, bentuk body dan penampilanku membunuh pasaran memang…hehehhe. ya kalian benar. pria itu cukup tampan dengan wajah middle east dan tubuh tinggi besar, dengan mobil bagus ceper-nya..aarrrgh gita! sempat2nya kau melihat….well.3 jam menunggu gityu!)…

tapi berulang kali sepanjang jalan pulang, seraya berdoa, kami mencoba menalar. untuk apa dia disitu? dari mana dia tiba2 datang? dia penduduk wollonggong yang  tidak sedang bersama siapapun (well, mercu suar itu gelap temaran memang.orang kalau tidak datang untuk bercinta, sprint berolah raga, atau seperti kami yang cuma satu mobil - kurang kerjaan untuk membidik object foto yang aduhai!indah benar memang!), bertandang ke pojokan kota yang cukup jauh dari city, tanpa track suit untuk ber olah raga, tanpa tujuan apapun! datang membantu, mengambil alih semua hal, dan melepas kami dengan khawatir…

Subhanallah!

berkali kali kami geleng2kan kepala, betapa dia seperti ditus oleh Allah untuk membantu kita.benar2 datang within a second saat mesin mobil kita berasap. membantu hingga tuntas, megajak kami menginap, meminta kami untuk singgah kapanpun kami datang lagi ke wollonggong, kebetulan di negara asing ini. atas nama persaudaraan Islam. tanpa pamrih.

he’s our angel last night…

GG

For Brother Adam in Wollonggong. Thank you very much. we’re speachless by your kindness. May Allah bless and repay all of your goodness to us last night..

Formula 1

October 7, 2007

Images_1 sahur ini gak sengaja nyetel tivi dan ada grand prix formula 1. kebetulan sudah hampir selesai a.k.a  sudah saat wawancara dengan pemenang… melihatnya aku jadi terkenang dengan perkenalanu dengan rally nomer 1 dunia ini…

Alkisah santo, sahabatku, kala itu datang ke rumah bersama teman2 lain..kebetulan pas ada F1 GRand Prix.. sumpah sebelum itu jagankan sempat mengenal, liat selintas aja bisa membuatku cepat2 memecet tombol remote untuk menggantinya dengan acara lain.

karena santo ini sangat amat tergila2 dengan F1, sebagai teman yang baik, aku coba lah untuk menemani dan mengerti.satu jam pertama berlalu dengan penuuuh pertanyaan dariku (karena jujur, daripada ngantuk dan tertidur-seperti biasanya). Untungnya santo dengan sabar menjawab seluruh pertanyaanku.

"berapa kali mutar sih to?"

"kenapa ada yang masuk pit stop ada yang nggak?"

"kenapa dikategorikan olah raga? olah apa kalau duduk doang?"

"kenapa sirkuitnya begitu bentuknya? ada standarnya?"

"pembalapnya kan pasti kaku nyetir secepet itu dan selama itu?"

"kalau pembalapnya pengan pipis gimana? apalagi kalau pup? kalau pipis dan pup di nana dengan rally selama itu bau dong?"

"kalau aus trus minum dari mana?"

"kalau ada emergency kondisi keluarga trus gak dikabarin?"

"kalau tiba2 sakit boleh berhenti gak?"

dan puluhan pertanyaan standar-bodoh-dan mungkin menggelikan lainnya yang aku ajukan kepada sahabatku ini. untungnya dia benar mau dan pelan2 menjelaskan satu demi satu dan memenuhi semua keingintahuanku dengan tuntas.

well, FYI..aku memang gak tau menahu soal F1 ini. sebagai gambaran, once upon a time, saat aku sedang mengajar mata kuliah komunikasi pemasaran, murid2 melakukan magazine-analysis atas sebuah majalah pilihan mereka. satu demi satu ku analisa pekerjaan mereka di muka kelas. tiba satu majalah yang tak pernah kukenal namanya sebelumnya:

"Majalah firacing. firacing ini tentang apa? siapa yang bikin?"

‘hening didalam kelas…..’ kuulangi pertanyaanku:

"Ayo, masak ajaib ada tugas tapi ga ada yang ngerjain? siapa bikin firacing?"

‘diam cukup lama hingga akhirnya ada seorang murid pria yang mengacungkan tangannya’…:

"Ibu, saya menganalisa majalah namanya F1-Racing, apa itu yang ibu maksud??"

merah ijo kuning wajahku. tapi bukan aku kalau gak bisa mgendalikan kebingungan anak2 (or should i say, kegelian mereka?)… langsung dengan cepat kusahut: "ooh, makanya angka 1 sama R-nya dipisah, jadi rancu begini. pantes aku gak pernah denger (hahahha ngeles namanya??)…

"malam itu akhirnya bisa kunikmati F1 Racing pertamaku. seru juga apalagi kalau ada prosesi tabrakan atau salah start atau saat mobil pemandu berkeliling memandu pembalap2 agar jalan lambat saat sisa kecelakaan dibersihkan membuatku bersemangat…putaran2 berikutnya malah aku ketagihan mengajak santo datang ke rumah jika ada rally berlangsung…

namun, pagi ini ku coba setengah mati mengingat semua ilmu yang santo turunkan. nihil. aku samasekali gak me-recall apapun dari rally ini (kecually ferarry merah, reikonnen, sudah - oh sahabatku yohannes isanto, maafkan aku yang dungu dan mudah lupa ini..). berapa total lap, berapa pertandingan sampai mereka bisa dinyatakan menang seri, di negara mana aja track-nya berada, etc dll. mencoba tertarik lagi seperti yang kuingat pernah kunikmati saat menonton bersama santo dulu juga gagal.

ternyata kesimpulanku adalah, rally ini enak kalau dinikmati bersama2 teman, apalagi teman yang sudah tahu benar akan rules and regulations dari pertandingan tersebut. menonton sendiri terlihat konyol (dan egois karena menguasai TV sendirian) menurutku.. hehehe, buat penggemar F1, no offence, mungkin olah raga, apapun bentuknya, memang tidak berhasil menyita perhatianku kecuali jika ditonton bersama orang lain.

GG

Ps: Miss you santoo!! well bro, u r too busy lately. gue pulang nanti, jika pasanganmu mengijinkan, kita nonton bareng di rumah gue lagi ya to?? atau siapa tau kita bisa melancong ke malaysia untuk nonton bersama….?