Kenapa pria itu “Gedhe Rumangsang (baca: GR - red)?”
November 27, 2007

Kalau boleh dihitung, ada sekian pria yang kukenal, mayoritasnya pernah paling tidak merasa ‘PD’ dengan amat sangatnya (baca= GR) bahwa kalau sampai ada wanita yang mendekat itu berarti suka. Prek! Entah betapa buram kaca-hias di rumahnya atau betapa besar kepala pria-pria itu sehingga mereka mudah sekali merasa GR kalau ada perhatian lebih dari lawan jenis.
Sebut saja Johan,
Pria keturunan cina bertubuh langsing, kulit putih, mata sipit dan tinggi yang hanya semampai itu merasa satu wanita kerap memandangi dirinya yang kebetulan duduk di bangku dekat jendela kelasnya.. salah tingkah, malu dan kikuk, apalagi wanita itu berbeda kepercayaan dengan dirinya, membuat ia memberanikan diri untuk mengajak bertemu wanita tersebut dibalik WC sekolah pada suatu siang
“sorry, gue ngajak ketemuan-lo disini…”
“gak apa-apa, ada apa, han?”
“gak enak nih ngomongnya, tapi gue cuma mau bilang: bukan gak suka, tapi kalau lo suka ama gue kayaknya gue gak bisa deh…”
“hah? Maksud-lo??”
“iya, kan elo suka ngeliatin gue dari kelas sebelah, tapi gue gak bisa suka ama elo walaupun lo suka ama gue, gimana?”
“Kapan gue ngeliatin elo, han? trud kenapa juga gue tertarik sama elo? Gue kan udah punya pacar?!”….
(kebiasaan melamun tanpa arah pandangan yang jelas membuat wanita itu merah padam. Moral cerita: jangan pernah ngelamun tanpa penglihatan yang terarah pada pria yang tidak GR dan tampan!)
Sebut saja Cahyo,
Pria bertubuh pendek tapi ideal ini adalah ketua suatu organisasi yang alkisah punya penampilan biasa tapi ‘ramah’ dan baik lagipun setia. Singkatnya, pria ideal dengan kekasih yang cantik. Saat itu dia sudah duduk di kelas 3 SMA, dimana kelasnya berhadapan dengan kelas murid kelas 1. Sebut saja, Tri, gadis belia kelas 1-3 yang tinggi semampai ini suka sekali membeli dan memberikan permen kepada teman2 sekelas. Walau dia sendiri tidak suka dengan permen… alkisah suatu hari saat ia membeli permen dari kantin sekolah, ia terburu2 membawa belasan permen itu di kedua belah tangannya. Bahagia sekali gadis ini, karena membayangkan wajah teman2nya yang akan berebutan permen. Tiba2 dimuka kelas, cahyo menyapanya sambil tersenyum:
“Banyak sekali permennya, tri?!”, kakak boleh minta satu nggak???
“ambil aja kak! Masih banyak kok, emang kakak doyan permen?”
“doyan sekali dong, terima kasih yaaa!"
“sama2 kak….”
Sejak itu setiap membeli permen untuk teman2nya, tri tak pernah lupa mampir ke kelas seberang untuk dengan cepat memberikan 1-2 permen kepada sang kakak kelas, dan langsung bergegas berlari menuju teman2nya didalam kelas. tapi kejadian itu tak berlangsung lama..setelah 3 kali berturut2 memberikan permen dalam waktu 2 minggu belakangan, cahyo mulai gerah. Suatu pagi saat pemberian permen ke-4 dalam 2 minggu terakhir terjadi, Cahyo segera memanggil tri untuk bicara sejenak.
“Tri, kamu baik sekali memberikan kakak permen terus”
“biasa aja kak, saya emang senang mbeliin permen. Cuma permen kok!”
“Tri, kamu tau
kan saya sudah punya pacar…”
“ tau. Mbak lisa anak kelas 2 BIO. Kenapa kak?
“Syukur kalau kamu sudah tau. Saya bberapa kali berpikir, maksud kamu ngasi saya permen itu apa, apa ada kepentingan lain, misal kamu mau kenal saya lebih dekat atau…”
“Hah? Sumpah ga ada maksud apa2 kak,
kan aku Cuma mikir kakak
sumpah!”
(hobby tri memberikan permen kepada teman2nya membuat dia malu sekaligus kesal dan marah setengah mati. Moral cerita: tidak perlu bagi2 permen ke orang yang salah!)
Satu lagi, sebut saja Yoza…
Pria ini cukup tampan, walau tidak terlalu pintar. Suatu ketika dia datang dengan sumringah dan senyum, penuh percaya diri dan bahagia.
“gue udah diterima sama tu cewek!”
Kontan kami tersentak, bagaimana mungkin kembang kelas dari angkatan dibawah kami, yang terkenal menolak pria2 yang jauh lebih tampan, kaya dan pintar dari Yoza out of sudden menerima yoza sebagai pacarnya. Muskil!
“Za, darimana lo bisa nyimpulin dia mau sama elo? Emang dia bilang apa?”
“gak perlu bilang lah! Dari perlakuannya ke gue udah jelas..Orang tuanya aja support banget kok! Ceritanya gini, kemarin malem gue ke rumahnya nun jauh di sana. Kebetulan ujan deres banget dan gue basah kuyup nyampe sana. Dingin banget emang. Nyampe2 ibunya langsung bilang :”Duh ita, temen kamu itu bisa masuk angin! Suruh mandi sana! Ada baju adikmu yang seukuran dia kan?!”…
“Bayangkan! Ibunya nyuruh gue mandi di rumahnya!”
Ditengah kebingungan kami untuk berusaha menangkap dan menggali anomali ataupun pertentangan dari cerita tersebut, yoza meneruskan:
“pas gue mau mandi, di kasi handuk ama ita lho! Hebat gak??cihuuy!!”
“kelar mandi
kan gue mau minum, eh dia kasi gelas!! Positip deh pokoknya!”
Lagi-lagi kami gak menangkap tanda2 ita menyatakan cintanya ke yoza. Mau mandi ya pasti dikasi anduk. Mau minum ya dikasi gelas. That’s it.
“pokoknya kita makan2 merayakan gue jadian ama ita ya! Bilang aja kalian mau dimana?!”
(kebaikan hati orang tua ita rupanya membuat ita terpaksa meladeni kebutuhan standard untuk yoza dirumahnya, seperti anduk dan gelas. Titik. Moral cerita: tidak perlu menerima tamu tak jelas saat hujan deras datang)…
Apa sebenarnya yang dominant di ketika kepala pria2 contoh diatas? Apa memang mereka patut menyatakan ke GR annya explisitly? Atau memang sebenarnya itu kodrat untuk merasakan sesuatu due to kepercayaan diri yang super duper? Apapun itu, resikonya Cuma dua. Akhirnya dapat kekasih karena kenekatan dan ke PD-annya, atau malah jadi ‘lelaki aneh’ yang dijauhi oleh seluruh wanita?
Tapi benar
kah kecenderungan bahwa pria itu sangat GR-an?
GG ps: Kisah ini sungguh nyata adanya, jika ada diantara pembaca yang sebenarnya adalah orang yang mengalami peristiwa tersebut, mohon mahfum….
KETIKA & TERNYATA
November 21, 2007
ketika orang yang seharusnya mendengar ternyata tuli
ketika orang yang seharusnya mengerti ternyata salah paham
ketika orang yang seharusnya menjalankan ternyata lalai
ketika orang yang seharusnya menjadi pelindung ternyata justru meminta perlindungan
ketika orang yang seharusnya sehati ternyata bertolak belakang
ketika orang yang seharusnya dekat ternyata jauh
ketika orang yang seharusnya menyatu ternyata terpisah
ketika orang yang seharusnya sejiwa ternyata sungguh berbeda
ketika… … … ternyata …?
ketika jalan buntu didepan mata dan ternyata pertanda berusaha mengatakan sesuatu yang tersurat…
lantas harus bagaimana?
GG
ditengah kebingunganku dan nya malam hingga pagi itu.
Something Precious that I almost missed
November 1, 2007
..malam ini
kutumpahkan tangis
"untuk dia yang dengan tulus dan sederhana,
ikhlas berjalan di kegelapan tanpa kepastian…
"untuk dia yang tegar dan berusaha tetap kokoh,
menyelubungi gundah & melawan semua kegalauan hati…
untuk dia yang melangkah dan memulai,
pada hal yang dia sendiri belum tau akhirnya…
dan untuk dia yang cintanya terasa hangat dan menyentuh,
meskipun aku kerap acuh & lalai mensyukurinya…
……terima kasih cinta……
GG
"saat haru menyeruak menjelang keberangkatanmu untuk kita. take care honey. Please Pray that I’ll catch you very soon. amien.
I’m speachless, just able to say:
"terima kasih sayang…"
143