This is ain’t Goodbye!
February 28, 2008
saya hanya phisically tidak disini,
tapi hati dan pikiran saya selalu bersama kalian yang berkenan mengingatnya…
this is ain’t goodbye
See you all later, one day!
GG
Dia
February 20, 2008
Dia bilang aku cantik,
dia menatap wajahku dan mataku saat berbicara…
dia memegang erat tanganku saat kami bersapa…
dia tersenyum akan leluconku, dengan senyuman yang paling manis yang pernah kulihat
dia menghiburku dikala sedih,
dia ada saat aku sedang butuh kedamaian,
dia selalu bersandar dengan manja saat kami berdampingan…
dia membuat hatiku berdesir pelan dan jantungku meluap2,
dia bercanda dengan yang lain hanya untuk menarik cemburuku,
dia amat menyenangkan jika kami bercakap,
dia telah mencuri hatiku…
padahal
hatiku sudah menjadi milik orang lain…
kenapa harus dia? dan dari mana saja dia?!
dia yang sedang kebingungan diujung sana….
Aku, dan mereka berdua…
February 12, 2008
Aku menikmati siksaannya disaat aku tersentuh kelembutan dari yang lain…
Aku menantikan kekangannya saat kuhirup udara kebebasan dari yang lain,,,
Aku menunggu cemburunya saat kuterima kepercayaan penuh dari yang lain…
Aku membangun dusta kepadanya saat kuberikan kejujuranku penuh kepada yang lain,,,
Aku membuat kokoh hidupku yang akan datang bersamanya saat kurajut benang kasihku dengan yang lain…
Aku menahan mati gulanaku didepannya saat dengan mudah kuungkapkan isi kepala dan binalku kepada yang lain…
Aku menjadi tempat sampah bersamanya saat bisa kulemparkan semua sampah2ku kepada yang lain,,,
Aku memakai lingkaran diatas kepala dikala bersamanya saat aku puaskan dan asah tandukku didepan yang lain…
Aku pasung jiwaku bersamanya saat jiwaku liar dan lepas mencumbu kehidupan bersama yang lain…
Aku memberikan janji kepadanya saat kutanamkan benih cintaku kepada yang lain,,,
Aku mencurahkan separuh perasaanku kepadanya saat kuberikan yang separuh lagi kepada yang lain…
Aku menjaga kesuciannya dengan jiwaku saat dengan puas bisa kureguk kenikmatan itu dengan yan lain,,,
dan
Aku adalah pria yang paling berbahagia memiliki dan berada diantara keduanya,,,
Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menyesalinya…
GG
Bleh, selingkuh kok balancing begini ya?
Pria-ku, Lelaki-ku
February 3, 2008
aku hampir lupa dengan rasa itu, ‘butterfly on my tummy’ saat melihat lelaki. bukan karena ketampanannya, tapi karena lelaki itu saja yang sudah mengena di hatiku…
***
kesendirianku yang cukup lama membuatku mematok standar yang cukup rendah. aku rindu pria yang bisa menghargaiku seperti layaknya perempuan normal. aku butuh pria yang punya kekurangan, pria yang tidak mangkak akan keunggulan pribadi maupun penampilannya, pria yang..biasa2 saja. pria yang bukan pria impian atau idamanku secara fisik dan penampilan; pria sederhana tanpa intrik dan dusta. pria yang sempurna saat itu untukku.
***
setelah pintaku terkabul, aku memang patut bersyukur. walau manusia memang tidak pernah teraih puasnya, tapi selalu kutekan semua keinginanku. aku-pun cukup sadar diri, tak mudah menemukan pria sebaik pasanganku sekarang. dia begitu lugu dan pengertian. menerimaku apa adanya. orang bilang, saat kau terpuaskan dengan keberadaan dan kebersamaan dengan pasanganmu, maka masalah akan jauh darimu. saat kau sema yang baik dan sesuai norma tersaji didepan mata, maka niscaya tak ada hati yang bercabang, aku percaya benar itu. hampir tujuh tahun kebersamaan kami, walau tanpa kepastian akan lanjutan ke jenjang yang juga kunantikan, aku tetap bersabar. priaku tidak bersalah. situasi yang belum mengijinkan kami bersama. aku pun salah, aku memilih untuk menerima pekerjaan di luar kota karena suasananya yang nyaman dan imbalannya yang lebih besar… kupikir, aku harus realistis. kalaupun kami mau menikah, kami harus siap lahir dan batin, terutama materi. dan akupun bukan jenis wanita kolot atupun pemorot yang tega membiarkan calon suamiku menangggung semua biaya. toh, dia-pun tak pernah keberatan dengan pilihanku. dia malah mendukungku.. tidak ada bersitan cemburu ataupun takut kalah pernah tersirat di matanya. dia memang terlalu lurus. realistis. dan penuh pengertian.
***
celaka!!
batinku,
pertama kali ku jumpa lelaki itu, jantungku berdesir tak menentu. lelaki yang biasa juga. lelaki yang tidak juga pernah hadir dalam mimpi dan lamunanku. lelaki sederhana.
tapi dia begitu romantis. dengan menceritakan kisah kekasihnya saja, aku bisa lumer dan ingin berlari ke pelukannya. dengan tatapan matanya saja aku bisa terlena dan sibuk mencari telaga bening yang menenangkan didalamnya. mendengar suaranya dan keberadaannya disekitarku saja sudah membuatku ingin berlama-lama bersama sekedar untuk bermanja. memadu kasih dengan khayalanku yang penuh dengan bayangannya, aroma tubuhnya, peluhnya.
Sejuta topan badai!
aku sudah berselingkuh? menelikungkan hatiku pada lelaki lain? segera ku ambil air wudhu dan bersuci didalamnya. kuharapkan ada tamparan halus dari Yang Kuasa akan kelalaianku saat ini; jangankan untuk pernah terlintas dibenakku untuk membandingkan priaku dengan lelaki lain, melihat kelakuan sahabatku yang senang membagi-bagi cintanya saja sudah membuat aku berang bukan kepalang! bukan hanya karena prinsipku yang mengajarkan dan mendidikku berpikir demikian, tapi aku memang pernah menjadi korban, aku pernah tersakiti, aku pernah berikrar untuk tidak pernah membiarkan perselingkuhan bagaimanapun berseliweran di depan hidungku; hal yang terkadang menyulitkanku didalam pergaulanku. tapi itu prinsipku! tidak ada, ya, tidak ada perselingkuhan yang terjadi didepan mataku… titik!
tapi…
sekuat apapun aku menarik hatiku untuk pergi menjauh, lelaki itu kembali datang mengganggu. bukan. aku yang membiarkan diriku terganggu olehnya. inikah yang pernah wanita itu sebut sebagai adrenalin? bukan kurasa? bukan pacuan jantung yang menderu yang kuinginkan.aku tetap tidak kuat dengan itu. hanya kebersamaanu dengan lelaki itu saja yang kerap membuatku bahagia.
aaarrrghh,
kenapa feeling-ku benar adanya? kenapa lelaki itu seperti memain-mainkan perasaanku yang halus padanya? setengah mati ku sembunyikan semua kekagumanku padanya. namun sungguh sulit menahan derasnya aliran kasih sayangku padanya. aku tiba-tiba ingin memperhatikannya, aku mendadak ingin mendengar alunan lagu yang lelaki itu ciptakan dan mainkan untuk kekasihnya menjadi lagu untukku; aku ingin menikmati kecantikan dan menghirup bau daffodil putih yang sering dia kirimkan untuk kekasihnya menjadi rangkaian bunga untukku; aku sungguh ingin dihujani kata2 mesra tiap saat lewat surat, kartu, telepon dan sms yang lelaki itu kirimkan kepada kekasihnya, tapi untukku; dan aku sangat cemburu melihat kesetiaan dan kesungguhan lelaki itu menjaga perasaan kekasihnya dengan mengusung utuh cinta putihnya.
cuih!
wanita itu tak pantas menjadi kekasihnya! aku yang bisa mendampinginya! aku yang bisa mengerti lelaki itu! kebersamaanku yang cuma berbilang bulan sudah membuatku hapal luar dalam, dan aku tau benar bagaimana membahagiakan lelaki itu! lelaki itu harusnya milikku!
wanita sundal!
***
pria-ku.. oh priaku… kenapa aku hampir lupakan ia. kenapa aku hampir menganggapnya tiada? kenapa aura lelaki itu terlalu kuat menarikku.
***
” kau kuanggap adik, ya? karena aku sayang padamu!”
senyumku terpaksa kukembangkan mendengar kata2 itu dari lelaki-ku. ah aku bahkan sudah membahasakannya sebagai ‘ku’, tanda kepemilikan, kepunyaan. tapi apa aku tak salah mendengar? hanya sebagai adik? sial! lantas dia sebut apa sentuhan2 halusnya saat membelai kepalaku selama ini? lalu dia anggap apa saat tangannya yang kokoh memegang kuat tanganku tempo hari? lantas dia artikan apa elusan tangannya di pundakku kemarin? dan apa pula yang ada dipikirannya saat dia melingkarkan lengannya di pundak dan leherku saat kami bersebelahan tadi pagi?!
adik?!
***
priaku datang pagi ini, ditengah kekecewaanku atas pernyataan lelaki itu. aku sungguh terpana melihatnya di muka pintu kamarku saat ku jawab ketukan pintu itu.
semalam kami berbincang, seperti biasa, pembicaraan standar bak kewajiban tiap hari, tidak dia katakan apapun tentang rencananya mengunjungiku yang berjarak puluhan kilometer ini.dia tak mungkin membuat kejutan. sekali lagi kutekankan, dia pria lurus biasa. lempeng nyaris tak bergelombang. semua perkataannya selalu mudah diduga, jalan pikirannya standar dan gampang ditebak, tidak pernah ada kejutan2 istimewa, dialog-pun selalu bersusun berulang. apa kabar? bagaimana hari ini? ada cerita menarik? bagaimana kantor? bos?. datar saja. malah aku nyaris tertidur karena kantuk malam tadi; ah! itu mungkin! mungkin dia menjelaskan rencana kedatangannya mengunjungiku saat aku terkantuk2 di telepon.
dengan berusaha penuh mengumpulkan semua nyawaku aku ingat aku bertanya. kenapa dia datang dan untuk apa?
dia tak menjelaskan. hanya nafasnya yang naik turun tak menentu, peluhnya bercucuran deras, dan raut wajahnya gugup tak menentu. sempet kulihat kelangit, mungkin matahari yang membuatnya demikian.
on his knee, “will you marry me?”
kukerjap2kan mataku berulang2. kupandangi priaku dengan menelanjangi seluruh sudut tubuhnya yang menghadapku dari atas sampai bawah. kepalaku menunduk dan kerap bergerak2 karena dia sedang bersendeku meminangku.
ASTAGA! DIA MEMINANGKU!
wajahnya penuh harap, pacuan jantungnya bahkan bisa kudengar dengan jelas tanpa perlu alat bantu. berulang2 aku berusaha menelan ludahku, ah aku belum minum apapun, dan aku sibuk mengingat2 apa yang kukenakan, piyama buluk warna jingga yang lusuh, rambutku acak2an, aku baru bangun tidur, dan priaku melamarku?
tujuh tahun tiga bulan dua belas hari dari pertama kali kami berikrar memadu kasih, sekian lama itu juga aku sudah berharap waktu ini tiba, 1001 khayal akan bentuk momen ini, tapi dilamar saat terpaksa bangun pagi dengan seluruh bebauan yang masih melekat di tubuh dan mulutku tak pernah aku bayangkan.
“bagaimana?”
sekelebatan bayangan itu dikejauhan sepertinya aku kenali benar. mataku yang tanpa kacamataku dan beruraian air mata bahagia menghalangi pandanganku saat itu. bau tubuh priaku menghanyutkan aku kedalam pelukan pria-ku. akhirnya dia melamarku. akhirnya kami akan abadi, akhirnya pertanyaanku terjawab sudah. akhirnya Yang Kuasa menunjukkan jalanku bersama priaku. aku merasa tidak pernah sebahagia dan seyakin detik ini. kurapatkan lagi lingkaran tanganku di pinggang priaku. dia menciumiku penuh kasih. berulang2 dia ucapkan terima kasih. sesekali kurasakan helaan nafasnya begitu dekat di telingaku. pria-ku pun terus memelukku sambil membelai lembut rambutku. aku tak mau kehilangan dia.
Hidupku sudah sempurna!
***
saat perubahan nasibku harus usai sejenak. pria-ku harus kembali ke kota-nya. dia hanya ijin sampai makan siang. aku tak rela melepas dia pergi. tapi dia berjanji akan datang akhir pekan nanti bersama keluarganya. kami akan pergi bersama ke keluargaku untuk secara resmi keluarganya akan meminangku. tinggal 2 hari lagi cincin yang sudah kukenakan ini akan resmi jadi milikku. pria-ku memintaku untuk segera mengurus pernikahan kita. dia hanya berkata hatinya menyuruh demikian. lebih cepat lebih baik. aku hanya setuju bahagia. akhirnya penantianku usai sudah. kulambaikan tanganku setelah priaku mengecup keningku dengan mesra. ah Tuhan, Ridho’i jalan kami yang tinggal selangkahan. pria-ku pergi seperti membawa lari semua cairan darah dalam tubuhku. aku nyaris malas bergegas ke kantor. aku ingin berlama2 merenung, mengantarkan kepergiannya sampai ekor mataku tidak lagi menangkap sosoknya yang semakin menjauh dari tempatku berpijak. cintaku datang semua, kembali hadir dan utuh. persetan siapapun juga! tak ada yang bisa mengoyahkan aku dan cintaku pada priaku. aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung.
***
kakiku tidak sengaja memijak kertas itu..aneh, tak ada orang lain disini, dan remasan kertas warna merah jambu itu belum pernah kulihat ada disini. harumnya bisa kucium tanpa harus menunduk. entah mengapa aku tertarik membukanya.
” aku terlalu yakin akan cintaku sebelum bertemu dengamu,
ketika dirimu di sampingku, aku menjadi pria begundal yang meragu;
aku menjadi tak pantas untuknya, dan juga untukmu..
tapi sesalku akan kubawa mati jika tidak kusudahi dustaku dan kuungkapkan perasaan ini,
aku terlalu mencintaimu; sudikah suci cinta-mu menjadi penguasa hatiku yang hina ini?”
***
selarik bait mendayu lengkap dengan partiturnya tertulis dibawah surat itu…
dan seikat daffodil putih segar teronggok tak jauh dari tempatku berdiri saat ini
***

GG
terlintas saat mau tidur malam setelah lelah dari questacon
Perpisahan dengan Ruang Kecilku - A207
February 2, 2008
di sudut ruang bersegi banyak namun sempit…
"Pasport" - checked!
"KTP dan SIM" - checked!
Surat kedatangan - cecked!
***
aku terpekur seusai checklist-ku selesai dan semua kumasukkan kedalam dompetku. entah ada rasa apa didalam dada dan pikiranku ini. senang - tak berani; sedih-untuk apa? tapi hatiku teriris pula?!; bahagia, akan seperti apa bentuknya?; lega - sudah bolehkah aku merasakannya??;hilang…ya ada yang hilang…kutelusur tiap sudut kamar ini satu persatu.penuh.masih penuh walau sudah kucoba menyortir semua berhari2.ada rasa bahagia semburat tidak rela menyeruak di dadaku…
belakangan ini sulit rasanya ku memejamkan mata dikala malam. entah karena kebiasaan bergadangku atau apa.yang jelas yang ada didalam dada dan pikiranku inilah yg semakin memicuku sulit tidur belakangan ini. walau akhirnya temapt tidur-ku yang separuhnya tertutup barang2ku masih bsia membuaiku ke alam mimpi
resah!
mungkin itu juga kata sifat yang tepat mewakili perasaan dan pikiranku. dikamar yang lebih dari 3 tahun aku benar2 menghabiskan waktuku ini; kutitipkan semua kisah. kisah yang spertinya hampir kuakhiri, karena yang kujelang adalah nuansa baru dan kisah itu sulit rasanya untuk ku ulang…hanya tinggal kenangan…
tidak siap!
walau mulutku dan logisku berusaha dengan kerasnya membawa aku ke keharusanku saat ini; aku masih, mungkin, belum siap. bukan karena keadaan yang melenakanku, tapi justru ketakutan akan masa datang yg membuatku seolah ingin kembali aman bersembunyi di ruang sempit ini.
ketidakniscayaan.
diseluruh jalan hidupku yang penuh ketidakpastian, kukerap jalani hari2ku kemana arah nasib dan hidup membawaku.tapi ketidakpastian yang kuhadapi kali ini terasa begitu besarnya. kuantitas ataupun kualitas.mampukah aku tanpa ruang sempit ini bertahan memacu kehidupanku? haruskah kumenentukan sendiri tanpa bantuan ruang kecilku ini?
katakan padaku..
bagaimana agar aku akan selalu mengingat ruangan sempit ini? apa yang bisa kulakukan saat aku benar2 rindu bercengkerama dengannya?? dengan cara apa aku dapat merasakan rasa yang sama seperti saat ini, dan hari2 kemarin padanya? padahal waktuku untuk bersama pelindung kecilku ini tak lagi lama…hanyalah tinggal kurang dari sebulan lagi..
masih di ruang sempit yang sama…
masih ingin kuhabiskan malam ini dengannya..meneruskan khayalan2ku, sedih dan tangisku, tertawa dan bahagiaku..
dikejauhan suara mobil lalu lalang, dan suaran springkler yang selalu mulai menyemburkan airnya pada taman kecil di luar bawah jendelaku pada pukul 3 pagi sebentar lagi berfungsi…dan akan kurekam pemandangan indah dari jendela kamarku saat semburat pagi menjelang, siang datang, dan mentari mulai terbenam…
kelak nanti,
akan kumimpikan ini semua lagi.akan kukenang dan kusimpan lekat2 dalam kenanganku dan alam bawah sadarku.
GG
tangis yg tak tertahankan. i’ll be missing you, my beloved A207