August 24, 2008

Akad

"saya terima nikah dan kawinnya….

mungkin hampir tigaperempat bumi yang ku kenal tau kisah kami… kami pertama bertemu di Canberra, kota yang dalam bahasa native aborigin berarti ‘a meeting place‘; ya, kami memang bertemu disana.

pertemuan yang mungkin masih diingat sebagian besar sahabat2 kami di Canberra kala itu, secara tidak sengaja ‘dipertemukan’, pake acara lari2 ala indihe (maklum aliran darah sulit ditampik), percakapan long duration (9 malam sampei 6 pagi!) 8 hari pasca pertemuan pertama kami, kenekatan seorang lelaki setengah desperado mencari pengganti cintanya yang terputus keadaan, ngumpet2 di rumah teman, sampe akhirnya kesempatan itu kuberikan walau penuh keraguan…

kala itu aku adalah wanita paling menyebalkan di muka bumi, wanita yang hatinya sudah lebih separuh rusak karena sakit masa lalu yang begitu dalamnya. wanita yang cintanya di sia2kan oleh lelaki yang salah. wanita yang menaruh harapan besar atas janji surga yang pernah terucap dalam balutan tipu daya. kala itu pula lelakiku datang dengan kesederhanaannya, dengan postur tubuh yang samasekali tidak masuk kategori impianku, dengan tutur bahasa yang terlalu halus untuk seorang lelaki, dengan kekukuhan hatinya untuk membina hubungan dengan serius, kedatangan yang belum aku harapkan dan belum kupandang sebelah mata disaat aku masih terluka.

Dengan naifnya dia meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa dia bisa membahagiakanku; walau saat pertama itu juga kobombardir lelakiku dengan seluruh kisah masa lampau-ku. seluruhnya! ketakutanku untuk kembali terluka, ketidakmampuanku menerima jenis kebohongan apapun, kesensitifanku yang melebihi kadar normal, kekhawatiranku akan kembali melukai orang tuaku dengan kekecewaan yang getir saat anak perempuannya diperlakukan dengan keji dan kebencianku pada mahluk Tuhan bernama LELAKI. dia mengangguk tanda setuju dan berkata bahwa di ujung nanti aku pasti akan teryakini dengan kesungguhannya. keyakinannya yang membuatku semakin berfikir bahwa kami punya perbedaan yang terlampau jauh dari budaya dan berbagai hal. lelakiku pasti tak akan kuat dan segera tumbang meninggalkanku. sama seperti aku pernah ditinggalkan…

satu tahun berlalu,

lelakiku masih tegar di sampingku, dengan segala kekerasan hatiku, kekasaran kalimatku dan ketidakpedulianku pada perasaannya, dia tetap tegar berdiri disampingku. sesekali kulihat dia lelah, tapi bukan kasihan yang keluar dari tingkahku, melainkan aku makin keras padanya. hingga saat pertemuan dengan orang tuaku aku diingatkan untuk berhenti menghakimi lelakiku atas dosa pria masa lalu..tapi aku tetap menjalankannya, kupikir tak akan pernah cukup aku menyiksanya. karena itu ujian untuknya sehingga (mungkin) aku akan teryakinkan…

hingga suatu ketika, di usia hubungan kami yang beranjak dewasa, disaat sinis dan tabiat burukku pada lelakiku makin menjadi, ucapan lirih yang keluar dari mulutnya tak ayal menyentak hingga ke seluruh nadi.

"i am not him, sayang. please give me a chance"

dia yang selama ini berdiri disampingku, dia yang selama ini telaten menerima ulahku, dia yang selama ini tetap tegar walau dalam sakit, dan dia yang selama ini menjadi korban kesalahan orang yang telah lalu…

barulah pikiranku berjalan normal, aku harus fair… dia tidak salah, tidak pernah berbuat salah, tapi kenapa dia yang harus menerima hukuman? dan sekian lama dia bertahan, apakah itu bukan bukti yang dia katakan akan dia berikan kepadaku?

bukan romantisme ala novel picisan yang selalu aku idamkan yang dia tawarkan, bukan lelaki yg bisa mengingat hari jadi tahun pertama mereka dengan jelas, bukan pangeran berkuda putih yang datang, bukan pula lelaki sempurna yang selalu aku list dalam daftarku, bukan pula lelaki yang penuh inisiatif dan surprise. lelakiku adalah lelaki sederhana apa adanya, bagi orang mungkin dia biasa, tapi bagiku dia istimewa. dia berlian yang bisa berkilau di hati ku.

maka setelah turun naik kisah kami, terpisah jarak berbilang tahun, pedih getir saat kami harus mengecap tahun demi tahun penuh ketidak pastian, menunggu datangnya surat resmi dari negara untuk menikah, plus saat kami menata hati kami yang naik turun, akhirnya hari itu datang juga…

hari dimana lelakiku meminangku, membacakan ‘kabul’ tanda terima dari bapakku, bersanding didepan tamu dengan penuh kebahagiaan yang memancar, maka kedatangan tamu yang tak terharapkan sekalipun tidak lagi membuatku gentar ataupun goyah.

aku menjadi milik lelakiku sekarang. lelakiku sekarang adalah duniaku. tempat aku berlindung, berbagi dan bersandar. kisah ini kuceritakan hanya untuk membuatku mengingat dan menghargai cinta kami, mensyukuri Kiriman Tuhan yang begitu indahnya menggantikan yang lebih baik atas yang dahulu pernah kupikir adalah garisku. mungkin, kalian yang membacanya bisa memetik pelajaran yang mungkin bisa berguna…

Alhamdulillahirabbilalamiin…

GG

each and every day I thank Allah for sending you to me

terima kasih untuk seluruh doa, dukungan, uluran tangan dan cinta dari semua yang mengasihi kami…semoga Allah yang membalasnya dengan kebajikan…