Karma
December 30, 2008

Pernah berucap/mengkutuk sesuatu yang berkaitan dengan karma, eh ndilalah (sepertinya)kejadian??
hwell, I cannot say that it is really happened yet… but…
sumpah, pas kalimat itu keluar dari mulutku dulu, betul2 sebatas emosi remaja tanggung yang tolol, gak mikir kedepan atau bahwa itu akan terwujud..
“Mas, adik2 mu perempuan semua, jangan sampe karena ulah kamu mereka sampe sakit seperti sakitnya aku sekarang..jangans ampe mereka yang kena karma kamu”
“ah tahyul! sorry ya ‘ta, aku gak percaya model begitu. Ga ada istilah karma, salahku aku tanggung sendiri!”
“ya mas, lihat saja nanti.. makasih atas semua, termasuk sakit yang dalam ini”
sepuluh tahun lebih berlalu, hidup sudah berganti dan berubah dengan cepatnya…
tak sengaja kusaksikan sendiri untaian kata dari adiknya yang ternyata benar tersakiti karena pria, didalam ketegarannya, menyesali ataupun memaki menyumpah dan menyerapah pria-pria yang lewat di kehidupannya… terselip kesedihan yang dia sendiri bingung kenapa harus dia lewati. jelas benar pesan itu kutanggap. semula tak kupikirkan apapun, tapi aku terkesiap begitu ingat baris kalimat percakapanku terakhir sebelum aku meminta muka untuk bisa meninggalkannya dalam sakit, kedustaan, pengkhianatan dan kejahatan yang ia lakukan tanpa rasa bersalah yang dia nyatakan…
sedikit lonjakan bahagia kurasakan, tapi, hey, seharusnya dia yang menderita! bukan adiknya atau perempuan lain disekitar dia! kulihat dia hidup sewajarmya! it is not fair! dia yang harusnya menderita, diputusin, dibuang, ditendang, atau mungkin kena sakit kelamin! tapi kenapa adiknya yang harus menderita??
jikalau mungkin, ingin rasanya kutarik kata2 menyangkut karma yang pernah aku ucapkan, jika memang benar itu karena ucapanku aku meminta maaf kepada orang yang tersakiti akibat ulahnya padaku.. aku sungguh tak bermaksud mengutuk ataupun menyumpahimu, dik!
adakah kemungkinan karma menimpa dia yang pernah menyakiti hati orang lain?
GG
terpekur menelaah keajaiban karma yang sedang terjadi di depan mata…
Graduation Gown
December 10, 2008
“Adalah sahabat lamaku, Tasya yang pertama kali mencetuskan ide yang sebelumnya ku pikir tak masuk akal ini beberapa tahun lalu.
“Sumpah ya! bajunya tuh bagus banget!bener2 elegan. dengan berjalan saja pemakainya bsia bangga setengah mampret! ayo dong elo ikut aja…”
Tasya lulus dari Monash University, Melbourne. di acara wisuda Master-nya tersebut, dia melihat serombongan PhD graduates yang memakai graduation gown mereka berjalan dengan anggunya ke arah podium.
“sumpah ya, lo jalan ke depan, trus standing on your knee trus lidah gown-nya dipasang setelah lo buka topi pelukis-lo, trus testamur diberikan… ‘what a moment!’ - gue udah bisa mbayangin elo melakukannya, c’mon git!”
udah gila ni anak..?!?
5 tahun berlalu dari himbauan itu. Hari ini seharusnya aku hadir dan melakukan semua persuasi tasya yang pernah menjadi salah satu tujuan utamaku mengambil program yang penuh dengan ketidak pastian dan rollercoaster yang berkepanjangan. program memasuki lorong yang tak jelas jalan keluarnya, dimana dan kapan…
di suatu siang saat lunch dengan pembimbing favoritku, setelah masa studiku hampir selesai, dia tiba2 bertanya: “apa tujuanmu mengambil PhD ini?”
‘Graduation Gown!’
kalimat itu yang secara spontan keluar dari mulutku!
‘what else? is there anything else that made you here?’
“oh yea, my secretary of department and head of department asked me to do it”
’something that came from yourself? self achievement, for instance? you see, I took my PhD because I want to become an expert in my field.. how about you?’
“hmm… nothing actually, Just the gown and the order… I just need to do the rest (i.e. do the program)”
seharian itu sampai sore pembimbingku menatap nanar kearahku, sesekali menggelengkan kepalanya, mungkin dia takjub, ada student yang punya pola pikir se sederhana aku, nyaris tanpa keinginan pencapaian yang tinggi. Terlebih, dia mungkin heran, kenapa pertanyaan ini tidak dia tanyakan saat anak ini mengajukan diri untuk kubimbing? jadi nggak kebobolan begini?? kulihat keraguan di raut wajahnya mulai detik itu
Kamu adalah orang yang mudah dipuaskan (Setiati 2001). Ya, itulah aku… aku selalu mematok (atau bahkan hampir tak pernah mematok) hal terlalu tinggi, aku tau kapasitasku terbatas, motivasi external biasanya jauh bisa memacu-ku untuk memenuhi sebuah janji dan atau harapan orang lain. “kamu tidak bisa memuaskan semua orang! (Yulianti 1990)”, yea, tapi kepuasan orang yang berhasil aku penuhi adalah kepuasanku, achievement-ku dan kebahagiaan buatku.
Graduation Gown dengan lidah yang melambai, topi pelukis nan lucu, berbentuk baju kebesaran yang begitu menawan penglihatan yang mengerti akan arti dari sebuah gown tersebut, gown yang merupakan impian Tasya yang menjadi Impianku memang terbukti merupakan salah satu sarana pacu utama penyelesaian studi-ku kala itu… setiap masa perish aku selalu memacu: ayo tinggal sekian langkan menuju podium dan berjalan dengan senyum bersama graduation gown-ku, my own graduation gown!!; setiap masa wisuda, tak pernah ku tolak ajakan teman2 ku untuk menjadi pendamping wisuda mereka.. tujuannya? agar kembali kulihat lambaian gown tersebut, sehingga semangatku terpacu kembali….
obsesiku memakai graduation gown di hari wisudaku semakin membulatkan tekadku untuk menyelesaikan proses panjang naik turun ini…
11 Desember 2008
idealnya hari ini aku berbaris bersama kelopok itu, persis seperti yang Tasya lihat 5 tahun lalu…lying on my knee merunduk untuk dipakaikan lidah gown kembali berdiri menerima testamur ku, dan berjalan dengan kepala tegak menuruni panggung…
tapi inilah takdir, setiap yang manusia tentukan tidak berarti jalan itulah yang akan terjadi. DI rahimku ada ade yang lebih berharga, diatas segalanya. saat saran dokter untuk tidak melakukan perjalanan jarak jauh via plane pada awal kehamilan ini kudengar, saat itu aku paham betul bahwa impianku memakai gown itu hari ini harus ku kubur….aku punya prioritas yang lebih utama sekarang….sesuatu yang jauh lebih berharga…Amien…
cerita ini ku tulis untuk menjadi pengingatku akan suatu semangat yang pernah membuatku bisa melewati hambatan dan melakukan sesuatu yang tidak pernah bahkan terbersit di kepalaku sebelumnya…
walaupun kemudian hal itu belum bisa diwujudkan kedalam dunia nyata, tapi aku sudah cukup puas menerimanya…Sudah lulus dan menerima testamur-ku via mail saja sudah melampaui keinginanku; karena walau naluriahnya demikian, Manusia tak boleh menjadi serakah
terima kasih sudah membacanya, terimakasih juga kepada teman2 yang sudah bersedia mengambilkan buku lulusan wisudawan hari ini…
GG
~campuraduk perasaan yang tak bisa di deskripsikan dengan kata2
Tiga Puluh Satu Tahun
December 8, 2008
ternyata sudah setahun penuh sejak serangan fajar dari teman2 ku di asrama itu.
sudah setahun yang lalu pula puncak kekhawatiranku memasuki usia kepala tiga yang ditangkap dengan jelas oleh sahabat2ku saat itu…
kali ini usiaku sudah tiga puluh satu.
di usia ini kedewasaan bertambah dengan lambat tanpa mengidahkan satuan waktu; namun berkah yang berlimpah selalu menyertaiku, Alhamdulillah…
di usia yang seharusnya matang ini aku masih mencari aku, walau tidak lagi se gamang dahulu… tujuan hidupku lebih jelas sekarang, aku memiliki suami yang begitu mencintaiku dan keluargaku, meskipun tak seromantis pria berkuda putih dalam impian masa mudaku dahulu.. di Rahimku Insya Allah ada ade junior yang sedang menari2 dan bertumbuh menjelang kedatangannya ke dunia ini… gelarku pun akhirnya sudah bisa ku nikmati, sungguh, tiada terkira Karunia Allah kepadaku… Subhannallah… sesuatu berkah yang banyak yang harus di preserve (Mumun, 2008)…
Terima kasih kepada semua orang yang begitu menyayangi saya, diluar kekanak2an dan ke luguan yang saya miliki, diluar sikap sensitif dan kasar yang sengaja atau tidak saya lakukan, berkah lainnya adalah memiliki keluarga dan teman yang begitu baiknya…
entah apa tujuan saya menulis ini, mungkin rasa syukur yang tiada taranya kepada Allah dan semua pihak…
I couldn’t thank enough….
GG